Kupang, NTT (ANTARA) - Politeknik Negeri Kupang (PNK) menggelar Workshop Penyusunan Dokumen Rencana Bisnis dan Business Model Canvas (BMC) sebagai bagian dari hilirisasi hasil riset mereka yang berjudul Otomatisasi Circular Farming dengan Pengaplikasian Teknologi Biofertilizer Berbasis Energi Terbaharukan dan IoT bagi Sistem Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan di Ballroom Hotel Sotis Kupang, Sabtu, 26 April 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Berdikari dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Riset ini dilaksanakan oleh tim periset dari tiga perguruan tinggi, yakni Politeknik Negeri Kupang (PNK), Universitas Nusa Cendana (Undana), dan Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani).
Tim periset terdiri atas:
- Ketua: Sulche Ifone Nafi, SE., M.Sc., Ph.D. (PNK)
- Anggota: Ferdinan Nikson Liem, SST., MT., Ph.D. (PNK); Jonri Lomi Ga, ST., M.Eng. (PNK); Dr. Almido Haryanto Ginting, ST., M.Eng. (Undana); Yason Edisson Benu, SP., M.Sc. (Politani); dan Jody S.A. Zacharias, ST. (Undana).
Riset ini bermitra dengan Kelompok Tani Batu Nirwala Alor dan SMK Negeri Bukapiting, Alor, dan dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan utama di sektor pertanian wilayah kering, seperti keterbatasan akses terhadap air untuk irigasi, kesulitan dalam memperoleh pupuk, tingginya biaya energi, serta kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi permintaan pasar.
Selain itu, kondisi ini juga diperparah oleh rendahnya pemanfaatan teknologi dan dampak perubahan iklim yang semakin terasa.
“Kami melihat peluang besar untuk membawa inovasi teknologi tepat guna ke tingkat petani akar rumput. Dengan circular farming, kami tidak hanya berbicara tentang produktivitas, tetapi juga efisiensi, kemandirian, dan keberlanjutan sistem pertanian,” ujar Sulche Ifone Nafi, SE., M.Sc., Ph.D., Ketua Tim Periset dari Politeknik Negeri Kupang.
Teknologi yang dikembangkan dalam riset ini mencakup integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan sistem Internet of Things (IoT), teknologi biofertilizer berbasis limbah organik, serta sistem otomatisasi untuk irigasi tetes dan penyemprotan biofertilizer.
Keseluruhan sistem dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pertanian melalui pengurangan siklus penyiraman, penghematan tenaga kerja, peningkatan produktivitas, pemenuhan kebutuhan pasar lokal, serta peningkatan nilai ekonomi masyarakat.
Selain dihadiri akademisi dan mitra tani, workshop ini juga diikuti oleh pimpinan Politeknik Negeri Kupang, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), akademisi dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Universitas Nusa Cendana, serta mitra riset dari kelompok tani Batu Nirwana yang diwakili oleh El Asamau.
Jumlah peserta sekitar 10 orang dengan suasana diskusi yang berlangsung produktif, reflektif, dan kolaboratif.

Merumuskan dokumen bisnis untuk inovasi lapangan
Fokus utama dari workshop ini adalah penyusunan dokumen rencana bisnis dan model bisnis menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC). Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan tengah pelaksanaan riset, dan dirancang untuk memastikan bahwa sistem teknologi circular farming yang dikembangkan dapat diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut secara berkelanjutan, baik secara teknis maupun ekonomis.
“Kegiatan ini bukan hanya mendekatkan dunia riset dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna dapat menjawab tantangan pertanian di wilayah kepulauan seperti NTT,” kata Prof. Dr. Deddy B. Lasfeto, ST., MT., Kepala P3M PNK.
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan dan replikasi, hasil workshop ini akan menjadi acuan untuk memperkuat model bisnis serta strategi pengelolaan dan adopsi teknologi oleh komunitas petani di masa mendatang.
Penandatanganan Kerja Sama PNK dan Kelompok Tani
Salah satu agenda penting dalam workshop ini adalah penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara Politeknik Negeri Kupang dan kelompok tani Batu Nirwana. Kerja sama ini merupakan komitmen bersama untuk memperkuat pendampingan teknologi, penerapan hasil riset di lapangan, serta pemberdayaan kelompok tani melalui pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis kebutuhan riil.
“Kami merasa sangat terbantu. Selama ini kami hanya mengenal pertanian konvensional. Sekarang, kami bisa belajar memanfaatkan limbah, menggunakan energi matahari, dan menyiram tanaman dengan teknologi. Ini hal baru dan sangat bermanfaat,” kata El Asamau, Kelompok Tani Batu Nirwana.

Komitmen vokasi: Dari riset ke dampak nyata
Dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan bidang teknik, pertanian, dan ekonomi, serta pemanfaatan energi bersih dan teknologi digital, riset ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan vokasi dapat menghasilkan solusi aplikatif yang berdampak luas.
Workshop ini membuktikan bahwa sinergi antara dunia pendidikan tinggi vokasi dan masyarakat dapat menciptakan inovasi berkelanjutan untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan pemberdayaan petani lokal.

