Labuan Bajo (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan secara keseluruhan parameter-visual, seismik, dan deformasi menggambarkan Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) berada dalam fase penurunan jangka pendek aktivitas vulkanik.
"Tidak terlihat indikasi kuat adanya dorongan magma baru yang berpotensi memicu erupsi besar dalam waktu dekat," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan diterima di Labuan Bajo, Senin.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam laporan khusus perubahan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga) tanggal 8 Desember 2025, pukul 15.00 Wita.
Ia menjelaskan data kegempaan pada 7-8 Desember 2025 hingga pukul 12.00 Wita terdapat satu kali gempa embusan, 27 kali gempa tremor non-harmonik, tujuh kali gempa low frequency, satu kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa tektonik lokal, 12 kali gempa tektonik jauh, dan empat kali getaran banjir atau lahar.
Pada periode 1-7 Desember 2025, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.
Data visual mencatat berkurangnya intensitas aktivitas permukaan, sedangkan gempa guguran yang masih fluktuatif lebih menggambarkan proses penyesuaian material di lereng yang menuju kestabilan.
"Gempa embusan mengalami sedikit peningkatan, namun hal ini lebih menunjukkan pelepasan tekanan gas dari lapisan dangkal, bukan tanda eskalasi menuju erupsi," katanya.
Data seismik, katanya, mendukung indikasi penurunan aktivitas. Tremor non-harmonik mengalami penurunan cukup signifikan, menunjukkan suplai magma yang sebelumnya aktif kini lebih banyak mengisi rekahan di kedalaman dangkal dengan laju yang melambat.
Ia mengatakan tremor harmonik dan gempa low frequency memang meningkat, tetapi aktivitas ini menggambarkan pergerakan fluida pada kedalaman, bukan migrasi magma yang kuat ke arah permukaan.
"Tidak terekamnya gempa vulkanik dangkal juga memperkuat gambaran bahwa tidak ada tekanan signifikan pada zona dangkal yang biasanya memicu erupsi," ujarnya.
Ia menjelaskan gempa vulkanik dalam mengalami penurunan cukup signifikan dalam dua minggu terakhir, namun tidak diikuti pelepasan energi selama tiga pekan terakhir.
Hal ini, kata dia, berbeda dengan pola sebelumnya yang biasanya segera setelah peningkatan dengan rentang waktu yang singkat memicu terjadinya erupsi, sehingga menunjukkan baik terjadinya hambatan pada conduit maupun berkurangnya suplai magma baru.
Aktivitas tektonik lokal dan tektonik jauh masih fluktuatif, tetapi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan aktivitas vulkanik.
Di sisi lain, data deformasi dari Tiltmeter dan GNSS menunjukkan tren penurunan sejak Oktober hingga awal Desember 2025, menandakan tidak adanya tekanan magmatik baru di dalam tubuh gunung.
Berdasarkan analisis visual dan instrumental tersebut, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki- laki diturunkan dari Awas (Level IV) menjadi Siaga (Level III).
Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi, serta tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah.
"Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya," katanya.
Selain itu, masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana agar mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat, terutama daerah aliran sungai yang airnya berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, seperti di Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada fase penurunan jangka pendek

