Logo Header Antaranews Kupang

Bahlil menjamin Indonesia untung meski impor minyak dari AS saat harga naik

Kamis, 5 Maret 2026 13:30 WIB
Image Print
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin Indonesia tetap untung meskipun mengimpor minyak dari Amerika Serikat ketika harga sedang naik akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Harga minyak mentah jenis Brent (ICE) telah menyentuh 83 dolar AS per barel, lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak mentah jenis Brent (ICE) pada Januari 2026 yang sebesar 64 dolar AS per barel.

“Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi (pembelian minyak dari AS) ada negosiasi. Pasti menguntungkan,” ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3) malam.

Bahlil juga meyakini, Pertamina selaku badan usaha milik negara (BUMN) yang mengalihkan impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat juga memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi dan mencari harga minyak yang lebih baik.

Dengan demikian, terdapat kepastian ihwal ketahanan minyak mentah (crude) di dalam negeri. Terkait dengan bahan bakar minyak (BBM), Bahlil menyampaikan Indonesia mengimpor BBM dari Singapura.

Ia percaya Singapura memiliki alternatif pemasok minyak mentah seperti Indonesia, sehingga pasokan BBM yang diimpor dari Singapura tetap stabil. Bahlil menekankan bahwa Timur Tengah bukanlah sumber minyak mentah satu-satunya di dunia.

“Ada dari Afrika (Angola), Brazil. Sebagian juga mereka (Singapura) ambil dari Malaysia, sebagian bisa ambil dari Amerika,” ucap Bahlil.

Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan masyarakat di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Kemudian Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada Minggu (1/3), Presiden AS Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.

Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.

Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bahlil jamin RI untung meski impor minyak dari AS saat harga naik



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026