Logo Header Antaranews Kupang

AS versus Iran di Selat Hormuz: Perebutan nadi energi dunia

Sabtu, 18 April 2026 16:49 WIB
Image Print
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.)

Jakarta (ANTARA) - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Amerika Serikat menerapkan pembatasan maritim terhadap Iran.

Perkembangan ini kembali memunculkan perhatian terhadap isu kontrol jalur strategis, kebebasan navigasi, serta stabilitas keamanan pelayaran internasional yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama perdagangan energi dunia.

Langkah Washington diambil setelah perundingan intensif dengan Teheran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan pada pertengahan April 2026 berakhir tanpa kesepakatan.

Perundingan yang dilaporkan berlangsung selama puluhan jam tersebut tidak berhasil menjembatani perbedaan mendasar, termasuk terkait isu nuklir dan pengaturan keamanan di kawasan Selat Hormuz.

Kebijakan itu dipahami sebagai bagian dari upaya tekanan terhadap Iran di bidang ekonomi dan keamanan, sekaligus menjaga kelancaran pelayaran internasional di kawasan yang dinilai menghadapi peningkatan risiko keamanan.

Perkembangan ini juga kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik sensitif dalam peta persaingan geopolitik global.

Di sisi lain, dinamika ini mencerminkan persaingan pengaruh atas jalur energi dunia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling vital dalam distribusi minyak global, dengan volume signifikan perdagangan energi yang melintasi perairan sempit tersebut setiap harinya. Kondisi ini membuat kawasan tersebut sangat sensitif terhadap perubahan situasi keamanan.

Iran, melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kembali menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas kapal di kawasan tersebut merupakan bagian dari kedaulatan negara. Iran juga dilaporkan memperkuat pengawasan terhadap kapal yang melintas di wilayah tersebut melalui patroli dan pemeriksaan di laut.

Situasi ini menciptakan kondisi yang kompleks, di mana dua kekuatan besar sama-sama mengklaim legitimasi atas pengelolaan jalur strategis tersebut.

Dalam kerangka hukum internasional, dinamika ini memperlihatkan ketegangan antara penggunaan kekuatan dan prinsip penyelesaian sengketa secara damai, terutama dalam konteks kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional.

Penolakan terhadap ketegangan di Hormuz

Peningkatan ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran luas di berbagai negara, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap stabilitas jalur energi global. Ketidakpastian di kawasan tersebut dinilai dapat berdampak langsung pada harga energi dan stabilitas ekonomi global.

China dan India, sebagai importir energi utama, menyoroti potensi gangguan terhadap pasokan minyak yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi domestik mereka.

Kedua negara tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi yang sebagian besar melewati kawasan Timur Tengah, sehingga setiap eskalasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius.

Rusia juga menunjukkan sikap kritis terhadap langkah-langkah sepihak di kawasan tersebut, dengan menilai pendekatan berbasis tekanan berisiko memperluas konflik serta melemahkan prinsip-prinsip hukum internasional yang selama ini menjadi acuan dalam penyelesaian sengketa global.

Menurut pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah, pendekatan berbasis tekanan dalam penyelesaian sengketa dinilai dapat mengurangi ruang diplomasi dan berdampak pada persepsi kredibilitas global pihak yang mengambil kebijakan tersebut.

Penolakan China terhadap eskalasi di kawasan ini memiliki implikasi yang lebih luas, mengingat ketergantungan tinggi negara tersebut terhadap kelancaran impor energi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuka kemungkinan munculnya krisis baru, karena setiap gangguan terhadap jalur vital tersebut dapat berdampak langsung pada stabilitas energi dan ekonomi China.

Dalam dinamika yang lebih luas, tekanan geopolitik yang meningkat berpotensi mendorong terbentuknya konsolidasi sikap di antara negara-negara BRICS. Perkembangan yang kian memburuk dapat menyatukan posisi negara-negara tersebut dalam merespons situasi, terutama ketika kepentingan bersama terhadap stabilitas energi global semakin terpengaruh.

Sementara itu, sejumlah negara di Eropa mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dengan menekankan pentingnya stabilitas jalur pelayaran tanpa memperluas eskalasi militer. Kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok global dan dampaknya terhadap inflasi menjadi pertimbangan utama dalam merespons situasi ini.

Bagi banyak negara berkembang, terutama yang bergantung pada impor energi, dinamika di Selat Hormuz kembali menegaskan kerentanan terhadap gejolak geopolitik yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi domestik, termasuk melalui tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global.

Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran dilaporkan memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz melalui patroli dan pemeriksaan di wilayah perairan tersebut. Penguatan ini dipandang sebagai bagian dari strategi keamanan maritim yang juga memiliki dimensi geopolitik.

Kapal yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan sekutunya berpotensi menghadapi pemeriksaan lebih ketat atau pembatasan tertentu. Kondisi ini menambah lapisan ketidakpastian dalam aktivitas pelayaran internasional di kawasan tersebut.

Selain aspek militer, muncul pula kekhawatiran mengenai kemungkinan penerapan mekanisme administratif dalam pengaturan pelayaran di kawasan tersebut, seperti izin lintas atau biaya tertentu, meskipun hal itu belum dikonfirmasi sebagai kebijakan resmi. Wacana tersebut masih berada dalam spektrum interpretasi berbagai pihak terkait dinamika keamanan di Selat Hormuz.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana penguatan kontrol di jalur strategis dapat berkembang menjadi instrumen yang tidak hanya bersifat keamanan, tetapi juga berpotensi berdampak pada dimensi ekonomi dan geopolitik yang lebih luas, terutama terkait biaya perdagangan energi global.

Dalam pandangan Rezasyah, ketegangan di kawasan itu telah memberikan dampak terhadap pasar energi global, yang terlihat dari fluktuasi harga minyak dan gas serta produk turunannya. Pergerakan harga tersebut menunjukkan sensitivitas tinggi pasar terhadap isu keamanan di kawasan tersebut.

Jika pengaturan pelayaran semakin diperketat, sejumlah negara dan organisasi internasional diperkirakan akan semakin mencermati perkembangan tersebut mengingat dampaknya terhadap stabilitas energi global dan rantai pasok internasional yang lebih luas.

Selat Hormuz pada akhirnya tidak hanya dipandang sebagai jalur pelayaran strategis, tetapi juga ruang bertemunya berbagai kepentingan geopolitik global yang saling berkelindan antara keamanan, ekonomi, dan kepentingan negara besar.

Respons dari berbagai negara menunjukkan bahwa eskalasi ini membawa implikasi yang melampaui kawasan. Stabilitas energi global, konfigurasi kekuatan internasional, serta efektivitas mekanisme multilateral menjadi bagian dari dinamika yang terus berkembang dan belum menunjukkan titik keseimbangan yang stabil.

Tanpa adanya kerangka kerja bersama yang efektif, risiko eskalasi diperkirakan akan tetap terbuka. Selat Hormuz dengan demikian tidak hanya menjadi jalur perdagangan strategis, tetapi juga ruang penting yang mencerminkan pertarungan antara kedaulatan, keamanan, dan kepentingan global yang perlu dikelola secara kolektif.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: AS vs Iran di Selat Hormuz: Perebutan nadi energi dunia



Oleh
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026