Logo Header Antaranews Kupang

BI prediksi pertumbuhan ekonomi NTT 2026 pada kisaran 4,94-5,54 persen

Jumat, 24 April 2026 11:01 WIB
Image Print
Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso (kiri) berbincang-bincang dengan Gubernur NTT Melki Laka Lena (kanan) terkait perekonomian NTT di Kupang. ANTARA/Kornelis Kaha

Kupang (ANTARA) -

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, memprediksi pertumbuhan ekonomi NTT pada 2026 berada pada kisaran 4,94 persen hingga 5,54 persen (year on year/yoy).

Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso, di Kupang, Kamis, mengatakan proyeksi tersebut ditopang keberlanjutan berbagai program ekonomi kerakyatan, peningkatan serapan tenaga kerja, serta penguatan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Peningkatan jumlah kegiatan berskala nasional juga diperkirakan memberi dampak positif terhadap pergerakan ekonomi daerah,” katanya dalam acara acara Flobamorata Business and Economic Forum 2026 yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia dengan tema "Ketangguhan Menuju Kemajuan: Sinergi Transformasi Ekonomi NTT yang Inklusif dan Berdaya Saing"

Selain itu, pembangunan sejumlah proyek strategis pemerintah seperti, Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN), Kampung Nelayan, Bendungan Nasional, Sekolah Rakyat, serta persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2026 diproyeksikan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi di NTT.

Menurut dia, perbaikan produksi komoditas unggulan daerah seperti rumput laut, kakao, dan kopi secara berkelanjutan juga akan menjadi penopang ekspor NTT.

Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah tantangan eksternal dan domestik yang perlu diantisipasi sepanjang 2026.

Secara global, konflik geopolitik seperti perang Amerika Serikat-Iran berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas strategis, termasuk minyak, emas, dan pangan, sekaligus menimbulkan gangguan produksi dan logistik.

Di tingkat nasional, tekanan global dinilai dapat mempengaruhi prospek ekonomi di tengah kebijakan pengetatan fiskal untuk menjaga defisit anggaran serta tekanan harga komoditas yang diatur pemerintah.

Sementara di tingkat regional, perlambatan produksi padi pada 2026 yang diperkirakan menjadi 22,33 persen atau lebih rendah dibandingkan 2025 sebesar 36,81 persen, kapasitas fiskal pemerintah daerah yang terbatas, serta kontribusi penyaluran kredit yang masih moderat menjadi perhatian.

“Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis ekonomi NTT tetap tumbuh kuat dan berdaya tahan pada 2026,” ujar Adidoyo Prakoso.

Dia juga membandingkan dengan tahun 2025 dimana pihaknya mencatat perekonomian NTT pada 2025 tumbuh sebesar 5,14 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan masa pra pandemi maupun capaian nasional.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi daerah yang terus membaik di tengah dinamika global dan nasional.

“Pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2025 mencapai 5,14 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan NTT pada masa pra pandemi sebesar 5,1 persen, serta sedikit di atas pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen,” ujarnya.

Menurut dia, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi NTT pada 2025 ditopang sektor pertanian yang tumbuh 3,50 persen dengan kontribusi pangsa sebesar 28,58 persen. Selain itu, sektor perdagangan tumbuh 10,92 persen dengan kontribusi 13,55 persen.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026