Kapolri tersentuh dengan pengabdian Brigpol Kresna Ola

id Buta Aksara

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kiri) memberikan piagam penghargaan kepada Brigpol Kresna Ola yang dengan idenya menentaskan buta aksara di perbatasan Indonesia-Timor Leste. (Antara Foto/Humas Polri)

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian tampaknya tersentuh dengan pengabdian Brigpol Kresna Ola, anggota Bhabinkamtibmas Desa Kenebibi, Kecamatan Kakulukmesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Kupang (ANTARA) - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian tampaknya tersentuh dengan pengabdian Brigpol Kresna Ola, anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Desa Kenebibi, Kecamatan Kakulukmesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Anggota Polres Belu itu akhirnya mendapatkan penghargaan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian atas idenya mengentaskan buta aksara bagi warga eks Timor Timur yang bermukim di perbatasan Indonesia-Timor Leste.

"Saya baru selesai terima penghargaan dari Kapolri," kata Brigpol Kresna Ola saat dihubungi Antara dari Kupang, Rabu (12/6), terkait dengan penghargaan yang diterimanya dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu.

Ia mengatakan penghargaan yang diterimanya itu berkat kerja sama dengan masyarakat Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu tempatnya dia bertugas.

Penghargaan yang ia terima tersebut adalah penghargaan yang ketujuh seteleh sebelumnya pada 2017-2018 sempat mendapatkan enam penghargaan. Pada 2017 penghargaan diperoleh dari Kepala Desa Kenebibi,

Selain itu juga dari Camat Kakuluk Mesak serta dari Kapolres Belu dan memasuki tahun 2018 juga mendapat penghargaan dari Camat Kakuluk Mesak, Kapolda NTT serta dari Korbinmas Baharkam Polri.
Seorang siswa penyandang buta aksara belajar menulis abjad, disaksikan Bhabinkamtibmas Brigpol Kresna Ola (kanan), di Rumah Merah Putih di Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, Sabtu (01/6/2019). ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama. 
"Kalau yang saya terima hari ini adalah penghargaan ketujuh langsung dari Kapolri," kata sambil menceritakan awal mula adanya rumah Merah Putih itu karena pada 2015 dirinya ditugaskan di Desa Kenebibi yang saat itu kasus pencuriannya cukup tinggi.

Oleh karena itu ia mencari ide untuk mencegah kasus tersebut dengan mulai mengumpulkan para orang tua di Desa Kenebibi dan mulai mengajari cara membaca, karena memang 90-an persen warga di desa itu tak bisa membaca dan menulis.

Waktu terus berlalu, antusias masyarakat di desa itu untuk belajar membaca dan menulis semakin tinggi walaupun hanya dilakukan di bawah sebuah pohon.
"Saya pun merasa perlu untuk membuat sebuah bangunan dilengkapi papan tulis, bangku dan meja belajar sehingga mereka bisa lebih nyaman belajar," ujarnya,

Akhirnya warga pun memberikan sebuah lahan kemudian pada Agustus 2018 berkat bantuan dari masyarakat dan gagasan dari Kapolres Belu, Rumah Merah Putih akhirnya didirikan untuk Komunitas Buta Aksara di kawasan perbatasan itu.

Idenya untuk mengurangi kasus pencurian di perbatasanpun berhasil. "Lewat pendidikan tersebut, banyak orangtua mulai menasihati anak-anaknya yang suka mencuri agar menghentikan kebiasaan buruk tersebut," katanya.

Ia menambahkan dengan penghargaan yang diberikan itu bukan berarti semangatnya dalam mengentaskan buta aksara di desa itu padam, tetapi justru membuatnya bertambah semangat untuk terus mengajari bapak-bapak dan mama-mama yang tak bisa membaca dan menulis di tapal batas RI-Timor Leste.

Baca juga: Rumah merah putih, upaya bebaskan warga dari buta aksara
Rumah Merah Putih di Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, Sabtu (01/6/2019). ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar