Logo Header Antaranews Kupang

Artikel - Desa terindah di dunia ada di Tiongkok

Senin, 2 September 2019 20:32 WIB
Image Print
Warga Desa Huangling di Tiongkok menjemur hasil produksi mereka. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)
Desa Huangling termasuk salah satu dari 22 ikon Tiongkok, dan merupakan salah satu dari sepuluh desa terindah atau tercantik di dunia.

Kupang (ANTARA) - Huangling merupakan sebuah desa yang terletak di atas bukit, sekitar 530 meter di atas permukaan laut di Distrik Wuyuan, tepanya di utara Provinsi Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Untuk mencapai desa itu, para pengunjung disediakan kereta gantung (cabel card), dengan waktu tempuh ke desa itu sekitar 10 menit.

Desa Huangling termasuk salah satu dari 22 ikon Tiongkok, dan merupakan salah satu dari sepuluh desa terindah atau tercantik di dunia.

Di desa ini, pengunjung dapat melihat rumpun bambu dan pohon-pohon berukuran besar. Bahkan, ada beberapa pohon Camphora yang sudah berusia ratusan tahun. Pohon Camphora ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai penangkal roh jahat.

Menurut legenda, pada sekitar 500 tahun lalu, di atas bukit inilah penduduk setempat membangun rumah. Di sana ada bangunan tempat peribadatan, sekolah, dan sebagainya.

Seorang warga Desa Huangling sedang melukis payung. Usaha ini untuk dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke desa itu. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

Kini, rumah-rumah yang jumlahnya sekitar 200 unit itu berubah menjadi kawasan heritage. Disulap menjadi tempat memajang karya seni, restoran dan penginapan bagi wisatawan.

Bangunan tempat peribadatannya dijadikan museum. Sementara bangunan sekolah tetap dipertahankan dengan fasilitas belajar mengajar zaman dulu.

Di sekolah itu pengunjung bisa duduk di bangku, berperan sebagai murid belajar membaca, dan pemandu wisatanya berperan sebagai guru.

Penduduk setempat yang berjumlah sekitar 700 jiwa, kini menghuni rumah-rumah di kawasan bawah bukit, tetapi sebagian besar dari mereka mengelola usaha pariwisata di rumah kunonya di atas bukit itu.

Selebihnya menjadi petani yang hasil produksi mereka dipasok untuk kebutuhan pariwisata di kawasan itu.

Sepuluh jurnalis Indonesia dari Bali, NTB dan NTT sempat berkunjung ke Huangling, pekan lalu. Para jurnalis ini didampingi Deputy Secretary General Shangrao Municipal People Government, Dong Liua dan Wakil Bupati Wuyuan County, Lujun dan sejumlah staf.

Deputy Secretary General Shangrao Municipal People Government, Dong Liua (kanan), Wakil Bupati Wuyuan County, Lujun (tengah) dan Ketua delegasi wartawan NTT, NTB dan Bali, Dwikora Putra (kiri) sedang berjalan menuju Desa Huangling. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)
Deputy Secretary General Shangrao Municipal People Government, Dong Liua mengatakan, untuk menata kampung itu sebagai objek wisata, pemerintah telah menghabiskan anggaran sekitar 30 juta Yuan.

Alokasi anggaran tersebut antara lain digunakan untuk memperbaiki desa sekitar dua juta Yuan, 1,5 juta Yuan untuk menyiapkan kereta gantung dan 25 juta Yuan untuk menata tanaman.

"Pemerintah membantu fasilitas seperti kereta gantung, biaya rekonstruksi bangunan, penataan jalan, toilet dan sebagainya dengan tetap mempertahankan keasliannya," katanya.

Setelah dilakukan renovasi, kini tiap tahunnya, Huangling dikunjungi sekitar satu juta wisatawan dengan pemasukan sekitar 1,8 miliar Yuan per tahun.

Pada 2018, pajak yang disetor ke pemerintah dari pengelolaan objek wisata di kawasan ini mencapai 40 juta Yuan atau sekitar Rp80 miliar.

Desa Huangling, yang terletak di jalur wisata timur, berjarak sekitar 24 mil (39 kilometer) dari Distrik Wuyuan. Dengan luas 1.235 hektare (lima kilometer persegi), itu seperti mutiara yang dianut oleh Gunung Shier.

Desa ini penuh dengan suasana kesederhanaan dan keanggunan. Ada fitur transportasi kabel, tempat tinggal kuno, teras, lautan bunga, dan adat istiadat rakyat Tiongkok.

Dibangun di lereng bukit, rumah-rumah di Desa Huangling memiliki bentuk "U" yang khas. Pada musim gugur setiap tahun, penduduk desa mengeringkan hasil tanaman untuk menjaga keawetan produksi mereka.

"Tanaman kering di musim gugur telah menjadi simbol khas budaya lokal, dan itu mewakili gaya hidup yang nyaman dan santai," tambah Wakil Bupati Wuyuan County, Lujun

Saat ini, pemandangan istimewa dan menarik ini semakin menarik pengunjung untuk melakukan perjalanan ke desa itu sambil mengambil foto.

Delegasi wartawan bertemu Ketua Asosiasi Diplomasi Publik RRT, Hu Zhengyue bersama sejumlah pejabat terkait. (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)
Arsitektur Huizhou
Sebelum tiba di pintu masuk Desa Huangling, pengunjung harus terlebih dahulu pergi ke pusat pengunjung Huangling.

Pusat pengunjung ini berbeda dari yang lain karena gaya arsitektur Huizhou yang istimewa. Di pusat pengunjung Huangling itu dihiasi dengan ukiran kayu yang indah.

Memasuki pusat pengunjung, ada langit-langit yang berisi tiga belas lapisan dihiasi dengan pola tradisional China yang indah.

Langit-langit semacam ini dianggap sebagai pelindung yang dapat melindungi perdamaian dan keselamatan desa, dan menampakan aura misteri di Desa Huangling.

Naik kereta gantung adalah pilihan yang baik bagi pengunjung yang berkeliling desa. Transportasi ini akan membawa pengunjung dari kaki gunung ke puncak.

Dengan kereta gantung ini, pengunjung dapat melihat gambaran umum desa. Pengalaman ini akan membawa pengunjung merasa segar dan sama sekali berbeda, kata Jen, Wakil Kepala Urusan Luar Negeri Kota Wuyuan.

"Wisatawan dapat melihat banyak lapisan teras, dan area besar bunga-bunga indah dan berwarna-warni. Berbeda dari pemandangan alam di daerah lainnya. Wisatawan sepenuhnya menikmati suasana pemandangan yang indah seperti ini," katanya.

Berjalan menyusuri jalan batu biru, wisatawan dapat melihat tempat tinggal kuno dengan karakteristik lokal khusus yang terletak di kedua sisi jalan.

Di gedung-gedung kuno ini, wisatawan masih bisa merasakan kemakmuran desa di zaman kuno. Ukiran kayu tua tapi indah mewujudkan sejarah panjang dan warisan budaya yang mendalam di desa itu.

Di desa adalah galeri panjang dengan ukiran batu bata 24 istilah matahari. Ukiran batu bata yang indah ini dibagi menjadi empat bagian yakni musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin.

Kamera pengawas Hikvision terlihat di lokasi pengarahan Kantor Informasi Dewan Negara (SCIO) di Beijing, China, Kamis (15/8/2019). Gambar diambil 15 Agustus 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Florence Lo/djo/ama
Ukiran dengan interpretasi literal menggambarkan bagaimana petani, dan penduduk desa bekerja dengan rajin dari pagi hingga sore.

Galeri yang mengesankan ini seperti bioskop yang menampilkan setiap adegan kehidupan sehari-hari petani.

Wisatawan akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang budaya tradisional Tiongkok, dan kearifan petani melalui 24 ukiran batu bata ini.

Fitur luar biasa dari desa ini adalah tanaman kering di musim gugur.

Dari Tiongkok kuno hingga saat ini, orang-orang suka mengeringkan produk sepanjang tahun di bawah sinar matahari untuk melestarikannya, karena iklim yang lembab dan gerimis, situasi ini sering muncul di Tiongkok selatan, terutama di Provinsi Jiangxi dan Hunan.

"Selama periode akhir musim panas dan awal musim gugur, jagung atau cabai diletakkan di atap rumah kuno ini. Seluruh desa ditutupi dengan selimut kain perca berwarna-warni," kata Jen menjelaskan.

Wakil Bupati Wuyuan County, Lujun menambahkan, untuk mempertahankan Huangling sebagai desa terindah, pemerintah telah membentuk sebuah departemen yang menangani desa itu.

Departemen ini juga akan menangani permasalahan air yang dihadapi desa itu, karena di kawasan itu selalu turun hujan dan menimbulkan banjir.

Selain itu, hal yang paling penting adalah pemerintah tidak memberikan kesempatan kepada perusak lingkungan untuk mengunjungi kawasan itu karena dapat merusak keaslian desa itu.

Ketua delegasi wartawan Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat dan Bali, Dwikora Putra mengatakan, Desa Huangling memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

"Rasanya tidak lengkap jika berada di Tiongkok tanpa mengunjungi Huangling, sebuah desa yang cantik dan indah di dunia yang terletak di atas bukit, sekitar 530 meter di atas permukaan laut itu," komentar Ketua PWI Bali itu.

Pemandangan langit pagi diatas pusat distrik bisnis di Beijing, China, Rabu (21/8/2019). REUTERS/Stringer/djo/nz (REUTERS/CHINA STRINGER NETWORK)



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026