Ada kesalahan memindahkan paus pilot sehingga mati

id Paus terdampar,Sabu NTT

Ada kesalahan memindahkan paus pilot sehingga mati

Proses penguburan paus pilot yang mati di pantai Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, NTT, Sabtu (12/10/2019) (ANTARA FOTO/HO-Humas BKKPN Kupang)

"Kami sudah melihat langsung tujuh ekor paus yang mati tersebut, dan sepertinya ada kesalahan saat memindahkan hewan-hewan itu ke tengah laut, sehingga mati," kata Ikram Sangadji.
Kupang (ANTARA) - Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menilai ada cara yang kurang tepat dalam memindahkan tujuh ekor paus pilot yang terdampar di Kabupaten Sabu Raijua, NTT sehingga mengakibatkan ikan yang dilindungi itu mati.

"Kami sudah melihat langsung tujuh ekor paus yang mati tersebut, dan sepertinya ada kesalahan saat memindahkan hewan-hewan itu ke tengah laut, sehingga mati," kata Kepala BKKPN Kupang Ikram Sangadji kepada ANTARA di Kupang, Sabtu (12/10).

Sebelumnya diberitakan pada Kamis (10/10) lalu sebanyak 17 ekor paus jenis pilot terdampar di pantai Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Pulau Sabu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari 17 ekor paus pilot itu, 10 ekor diantaranya berhasil diselamatkan oleh warga sekitar untuk dilepasliarkan kembali, sementara tujuh ekor lainnya mati.

Baca juga: Paus sperma terdampar di pantai Pulau Sabu
Baca juga: Belasan ekor paus terdampar di Sabu Raijua
Paus pilot mati bergelimpangan di pantai Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Pulau Sabu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis (10/10/2019).(ANTARA FOTO/HO-Humas BKKPN Kupang)

Menurut Ikram saat kejadian terdamparnya belasan ikan paus itu, sudah ada permintaan dari warga atau aparat terkait kepada petugas BKKPN yang ada di Kupang untuk memandu bagaimana cara menyelamatkan belasan ekor paus itu.

"Kami sudah arahkan bagaimana membantu ikan-ikan itu kembali ke tengah laut, namun banyaknya masyarakat yang ingin membantu menyelamatkan, sehingga kami juga kesulitan menuntut, apalagi caranya menggunakan handphone," tutur dia.

Ia mengatakan bahwa dari hasil pengamatan di lapangan tujuh ekor paus yang mati itu mengalami banyak sekali luka di bagian badan dan perutnya.

Selain itu saat penyelamatan, warga memegang sirip, ekor dan badan paus tersebut, sehingga mengakibatkan ikan semakin stres.

"Seharusnya untuk menyelamatkan ikan-ikan itu, cara mengangkatnya harus menggunakan terpal berisi sedikit air, dan ramai-ramai memindahkan ke tengah laut sehingga tak ada kontak fisik dengan ikan itu," tambah dia.

Namun, pihaknya memuji warga sekitar karena sadar untuk kembali menyelamatkan ikan-ikan itu, walaupun ada satu ekor yang dipotong-potong oleh warga yang diduga bukan warga dari daerah  tersebut.

"Saya memberikan apresiasi karena warga di desa itu beramai-ramai menyelamatkan ikan-ikan itu. Ini artinya bahwa kesadaran masyarakat sudah mulai tinggi," tutur dia.

Baca juga: Paus berkepala melon terdampar di Pantai Oesapa
Baca juga: Paus terdampar berhasil dikembalikan ke laut

 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar