
"frenly" Perkokoh Batin Di Kerajaan Amarasi Oleh Laurensius Molan

Rindu kata malu asmara
Pasang tangan sepuluh jari
Minta maaf kata yang salah
Burung dikenal karena berkicaunya
Manusia dikenal karena suaranya
Tak dikenal tak disayang
Kalau dikenal baru disayang
Sepenggal bait pantun tersebut di atas, dituturkan secara teratur oleh Desman Amnifu (46), ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya hendak memasuki Istana Kerajaan Amarasi di Baun, sekitar 24 km selatan Kupang, Rabu (12/12).
"Setiap tamu yang hendak memasuki Istana Kerajaan untuk bertemu dengan sang raja, selalu disambut dengan upacara adat Natoni dengan ucapan kata-kata seperti itu," kata Ketua Kelompok Natoni Amarasi, Desa Tunbaun itu kepada ANTARA, ketika ditanya soal makna pantun yang diucapkannya.
Kehadiran Lebu Raya di Istana Kerajaan Amarasi tersebut, tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai gubernur, tetapi juga sebagai calon Gubernur NTT untuk periode 2013-2018 yang diusung PDI Perjuangan.
Ketika memasuki Istana Kerajaan, Lebu Raya yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan NTT itu didampingi oleh calon wakilnya Benni Lytelnoni--saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Selatan--untuk bertemu dengan pewaris tahkta Kerajaan Amarasi Robert M Koroh.
Ada banyak hal yang dibicarakan di ruang depan istana tersebut. Banyak kalangan menduga pertemuan tersebut sebagai salah satu upaya "Frenly"--sandi politik pasangan Frans Lebu Raya-Benni Lytelnoni--untuk memperkokoh batin politik menyambut pertarungan politik pemilu Gubernur NTT pada 18 Maret 2013.
Dugaan tersebut mungkin juga ada benarnya, karena pasangan "Frenly" yang turut didampingi oleh masing-masing isteri, lebih dahulu nyekar di pusara Raja Amarasi Hendrik Arnold Koroh di sebuah kawasan perbukitan yang berjarak sekitar satu kilometer dari Istana Kerajaan Amarasi.
Raja Amarasi ini lahir pada 9 Mei 1904. Ia menguasai wilayah kerajaan di selatan Kupang itu sampai wafat pada 30 Maret 1951. Takhta kerajaan kemudian diwariskan kepada putranya Victor Hendrik Rasium Koroh dari 1953-1967.
Ketika takhta kerajaan diwariskan kepada putranya Robert M Koroh, Victor Hendrik Rasium Koroh ditunjuk oleh Bupati Kupang menjadi Camat Amarasi dari 1967-1977. Selepas dari jabatan camat, ia sempat mengecam dunia politik di Senayan sebagai anggota DPR-RI dari Golkar periode 1977-1983.
Semua orang NTT mengenal dan mengenang Raja Victor Hendrik Rasium Koroh, karena gagasannya tentang paronisasi untuk ternak sapi, lamatoronisasi untuk pakan ternak dan terasering serta gagasannya tentang perumahan terkonsentrasi.
Ketika memasuki wilayah kerajaan, persisnya di Pasar Baun yang juga merupakan ibu kota Kecamatan Amarasi Barat, pasangan "Frenly" didaulat untuk menunggang kuda, sedang permaisuri mereka ditandu bagai raja dan permaisurinya memasuki istana pada masa dulu.
Ikatan batin politik di Kerajaan Amarasi ini terasa makin kental tatkala pasangan tersebut didampingi isteri masing-masing, didaulat masuk ke istana kerajaan setelah melalui proses natoni yang dipimpin Desman Amnifu.
Acara yang berlangsung rakral pada penanggalan kramat 12-12-12 ini diprakarsai oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Purnama Kasih Kupang pimpinan Yoseph Ariyanto Tef`lopo Lu yang disulap dalam tema "Peringatan Pengabdian Hendrik Arnold Koroh" di Wilayah Kerajaan Amarasi.
"Saya melihat ada kesamaan dari sosok kepemimpinan Frans Lebu Raya-Benni Lytelnoni (Frenly) dengan jejak langkah perjuangan dan kepemimpinan Raja Koroh di wilayah Kerajaan Amarasi pada masa lalu. Mereka meletakkan dasar-dasar pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM di NTT, sama seperti yang dilakukan Raja Koroh kepada masyarakatnya di wilayah Kerajaan Amarasi," kata Ariyanto.
Direktur Yayasan Purnama Kasih (Yaspurka) Kupang itu menambahkan banyak sosok pemimpin yang tampil pada arena pemilu Gubernur NTT 2013, namun dari sekian banyak figur tersebut, hanya sosok "Frenly" yang memiliki latar belakang budaya yang sama dengan sosok kepemimpinan Raja Koroh pada masa lalu.
"Rakyat di wilayah Kerajaan Amarasi sangat merindukan sosok pemimpin seperti Frenly, dan pewaris takhta Kerajaan Amarasi Robert M Koroh menyambut dengan riang gembira pasangan Frenly masuk di Istana Kerajaan pada Rabu (12/12) pagi itu," ujar Ariyanto yang juga pewaris takhta Kerajaan Tef`lopo dari Polen, Timor Tengah Selatan itu.
Gubernur Frans Lebu Raya juga tidak menyangkal dan mengiyakan pandangan tersebut, namun dalam sambutannya dihadapan rakyat Amarasi di halaman istana kerajaan mengatakan pembangunan bangsa hendaknya berlandaskan pada budaya warisan bangsa agar tetap kokoh, tidak mudah rapuh dan salah arah.
"Budaya mesti tetap dilestarikan. Ini pesan penting yang selalu saya sampaikan ketika mengunjungi rumah adat ataupun istana raja di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Ini karena ada banyak nilai-nilai penting yang harus terus dikembangkan dan dijadikan landasan pembangunan bangsa," kata Lebu Raya.
Menurut dia, semua nilai budaya yang diwariskan oleh para lelulur pejuang bangsa, memiliki makna yang sangat mendalam dan berarti bagi setiap generasi untuk dijadikan acuan dalam membangun bangsa dan negara.
"Nilai kebenaran, sopan santun, cinta kasih, kerja keras, kejujuran dan keiklasan serta pengorbanan diri bagi seluruh masyarakat dan bangsa ini tanpa mengenal lelah adalah nilai-nilai yang harus dijadikan pedoman dalam setiap derap pembangunan bangsa ini," katanya.
Itulah sebabnya, kata Gubernur Frans Lebu Raya, mantan Presiden Soekarno dalam sebuah pidato selalu mengingatkan kepada seluruh anak bangsa untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah (jas merah).
Karena dengan sejarah, anak-anak bangsa ini bisa belajar tentang masa lampau, tentang apa yang diwariskan para pejuang bangsa ini untuk dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dengan pengabdian dan pengorbanan Raja Koroh kepada masyarakat Amarasi.
Pewaris takhta Kerajaan Amarasi Robert M Koroh mengatakan, Hendrik Koroh telah memiliki jasa yang sangat besar bagi pembangunan di wilayah Amarasi.
Pada masa sulit, misalnya, almarhum harus bekerja keras untuk mensejahterakan masyarakat, khsusunya yang ada di Amarasi. Almarhum yang melatkkan dasar dan menjadikan Amarasi sebagai daerah penghasil ternak terbesar di Nusa Tenggara Timur melalui program paronisasi ternak sapi yang terus diwariskan oleh para penerusnya hingga saat ini.
Ariyanto Tef`lopo Lu agaknya cukup memahami kondisi yang dialami masyarakat di wilayah Kerajaan Amarasi, sehingga tak segan-segan menggelar sebuah perhelatan akbar bernuansa budaya dan politik dengan menghadirkan pasangan "Frenly" sebagai bentuk personifikasi dan transformasi nilai yang diwariskan oleh Raja Koroh di wilayah Amarasi.
"Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk untuk memperkokoh batin politik pasangan `Frenly` di wilayah Kerajaan Amarasi, karena pada penanggalan yang kramat ini (12-12-12), pasangan tersebut juga dideklarasikan oleh partai pengusungnya PDI Perjuangan. Antara budaya dan politik harus seiring sejalan agar memiliki kekuatan yang kokoh untuk membangun daerah ini," demikian Ariyanto Tef`lopo Lu.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
