
Perlu Diversifikasi Pangan Lokal

Kupang (Antara NTT) - Pengamat masalah Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Leta Rafael Levis mengatakan pemerintah daerah terus mendorong diversifikasi pangan untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal menghadapi ancaman rawan pangan akibat gagal panen.
"NTT ini kaya akan kearifan lokal seperti diversifikasi pangan sehingga perlu didorong untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal untuk tujuan pemenuhan kebutuhan dan ketahanan pangan," katanya kepada Antara di Kupang, Senin (14/11).
Ia mengatakan hal itu terkait produksi dan diversifikasi pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan dalam proyek unggulan APBN 2017 dengan .
Ketua Penyuluh Pertanian Nusa Tenggara Timur itu mengatakan berbagai upaya mendorong berkembangnya diversifikasi pangan terutama dengan peningkatan konsumsi pangan lokal melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat akan membuka jalan keluar dari masalah pangan akibat kekeringan.
Ia mengatakan dorong ini seiring dengan Kementerian Pertanian yang mendukung peningkatan produksi pangan lokal, apabila dalam tatanan kebijakan melalui regulasi anggaran untuk memberdayakan petani di daerah yang memiliki mungkin bisa dilakukan ketika kondisi tidak memungkinkan petani atau penduduk di pedesaan mengeluhkan kekurangan bahkan ketiadaan pangan," katanya.
Ia menilai kebijakan ketahanan pangan yang cenderung berorientasi beras diterapkan pemerintah pasti memicu kerawanan pangan dengan variasi berbeda di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di NTT.
Sebab jenis konsumsi pangan masyarakat berbeda-beda di daerah dan tidak semua mengkonsumsi beras karena pada daerah tertentu banyak pangan lokal yang dijadikan pangan utama berdasarkan karakteristik yang ada di daerah itu.
Jadi menurut dia, jangan yang diperhatikan adalah ketersediaan pangan untuk masyarakat, namun asal-usulnya tidak diperhitungkan. Sehingga saat jumlah pasokan kurang karena juga harus bersaing untuk energi dan pakan ternak.
Kebijakan ketahanan pangan ini juga yang, menurut dia, menjadi kontradiksi dengan kedaulatan pangan yang sebenarnya diinginkan masyarakat, terutama di daerah.
"Karena sebenarnya masyarakat juga ingin berdaulat pangan dengan jenis pangannya sendiri, seperti di NTT biasanya jagung dan umbi-umbian, di Papua biasanya sagu dan lain lagi di daerah tertentu yang ada di Tanah Air," katanya.
Menurut dia, diversifikasi untuk kecukupan pangan dan nutrisi yang sebenarnya sudah diamanatkan dalam Perpres Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal menjadi tidak berjalan dengan kebijakan ketahanan pangan yang orientasi beras.
Padahal katanya dengan diversifikasi pangan masyarakat di daerah-daerah yang tidak memiliki beras, misalnya di NTT, tidak bisa dikatakan rawan pangan karena ternyata mereka punya karbohidrat dari jagung atau umbi lainnya.
"Mereka bisa berdaulat pangan yang akhirnya tercapai ketahanan pangan sebenarnya jika pemerintah mendukung diversifikasi pangan di sana," katanya.
Dosen dan Peneliti Undana itu menyebut sorgum merupakan salah satu jenis tanaman serealia yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di NTT sebagai pangan alternatif karena mempunyai daerah adaptasi yang luas.
"Dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama/penyakit. Sorgum merupakan komoditas alternatif untuk pangan, pakan, energi, dan industri," katanya.
Ia mengatakan sorgum merupakan tanaman asli dari wilayah-wilayah tropis dan subtropis di bagian Pasifik tenggara dan Australia. "Sejumlah sumber lain malah menyebutkan tanaman ini berasal dari Afrika dengan 32 spesies," katanya.
"Sorgum pun bagus untuk dipanen di musim kering dan sangat cocok dengan iklim NTT yang musim kemaraunya panjang," katanya.
Pewarta : Hironimus Bifel
Editor:
Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
