213.899 hektare tanaman jagung berpotensi diserang ulat grayak

id ulat grayak

213.899 hektare tanaman jagung berpotensi diserang ulat grayak

Seorang petani di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang melihat tanaman jagungnya yang sedang diserang hama ulat grayak. (ANTARA FOTO/Aloysius Lewokeda)

"Kami memperkirakan dari sekitar 680.696 hektare luas tanaman jagung milik para petani NTT, ada sekitar 213.899 hektare di antaranya berpotensi diserang hama ulat grayak," kata John Oktovianus.
Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Timur (NTT) John Oktovianus mengatakan tanaman jagung di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini yang berpotensi diserang hama ulat grayak seluas sekitar 213.899 hektare. 

"Kami memperkirakan dari sekitar 680.696 hektare luas tanaman jagung milik para petani NTT, ada sekitar 213.899 hektare di antaranya berpotensi diserang hama ulat grayak dalam musim tanam 2019/2020," katanya di Kupang, Kamis (13/2).

John Oktovianus menambahkan areal tanaman jagung yang berpotensi terserang hama ulat grayak ini menyebar di 16 dari 22 kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTT.

Menurut dia, areal tanaman paling banyak berpotensi terserang hama ulat grayak yakni Kabupaten Manggarai Timur yakni mencapai 153.875 hektare.

Disusul Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seluas 25.943 hektare, Kabupaten Sikka seluas 10.209 hektare, Flores Timur seluas 9.997 hektare, Lembata seluas 4.921 hektare, Ende seluas 4.092 hektare dan Sumba Barat Daya seluas 3.789 hektare.

Sementara areal tanaman jagung pada daerah yang paling sedikit berpotensi terserang hama ini adalah Sumba Timur seluas 161 hektare, Sumba Tengah seluas 192 hektare, Kabupaten Kupang seluas 171 hektare.

Dia mengatakan pemerintah terus berupaya melakukan pengendalian terhadap serangan hama tersebut.
Hama ulat grayak menyerang tanaman jagung milik rakyat di Provinsi NTT. (ANTARA/HO-Istimewa.)

Radius 100 km
Secara terpisah, peneliti sumber daya pada Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT Tony Basuki mengatakan hama ulat grayak itu mampu berpindah hingga radius 100 km.

"Selain itu, hama ini mampu berkembang biak sangat cepat karena satu betina mampu menghasilkan 1.000-2.000 anakan ulat sekali masa bertelur," katanya.

Sementara itu, peneliti spesialis hama dan penyakit pada BPTP NTT Noldy Kotta, M.Sc menjelaskan penyebaran ulat ini diakibatkan oleh cuaca dan sangat cepat berkembangbiak..

"Ada empat tahap perkembangbiakan ulat tentara ini yakni mulai dari bertelur, kemudian jadi larva (ulat yang makan daun jagung), lalu jadi pupa atau kepompong, kemudian jadi ngengat atau kupu-kupu kecil," katanya.

Dia mengatakan ulat ini bisa menyerang tanaman lain seperti jenis kacang-kacangan tapi makanan utamanya adalah tanaman jagung, juga ke tomat, cabai, tapi itu kalau makanan utama jagung sudah tidak ada lagi.

Hama ulat tentara ini sangat berbahaya karena serangannya pada titik tumbuh jagung. Untuk pengendaliannya, para petani disarankan menggunakan insektisida bahan aktif atau carbo furadan, dengan meletakkan beberapa butir di dua-tiga titik tumbuh dan mampu meredam kerusakan tumbuhan. 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar