Logo Header Antaranews Kupang

Sumba Butuh Investasi Perhotelan

Sabtu, 20 Mei 2017 11:49 WIB
Image Print
Hotel Nihiwatu di Sumba Barat, NTT
"Selain Hotel Nihiwatu di Sumba Barat, belum ada hotel berbintang lainnya di Pulau Sumba yang memiliki empat kabupaten itu," kata Fredy Ongko Saputra.

Kupang (Antara NTT) - Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Timur Fredy Ongko Saputra mengatakan Pulau Sumba sebagai salah satu daerah destinasi wisata unggulan masih membutuhkan banyak investasi di bidang perhotelan.

"Selain Hotel Nihiwatu di Sumba Barat, belum ada hotel berbintang lainnya di Pulau Sumba yang memiliki empat kabupaten itu," kata Fredy Ongko Saputra di Kupang, Sabtu.

Ia mengatakan, PHRI memang belum mengetahui secara pasti jumlah pertumbuhan hotel di Pulau Sumba secara keseluruhan, namun umumnya merupakan hotel-hotel kecil, non-bintang atau sekelas melati dengan jumlah kamar yang masih terbatas berkisar 20 hingga 30 kamar.

Menurutnya, dengan kondisi perhotelan yang masih terbatas itu maka masih diperlukan investasi yang lebih banyak untuk pembangunan hotel-hotel berbintang.

Apalagi, lanjutnya, Pulau Sumba yang dikenal dengan atraksi budaya berkuda (Pasola) itu memiliki sejumlah potensi keindahan dan keunikan pariwisata seperti wisata alam darat dan laut, wisata budaya, megalitik, dan lainnya yang terus diincar para wisatawan lokal maupun asing.

"Wisatawan yang datang memang bisa menginap tapi spesifikasinya hotelnya masih seperti itu, hotel-hotel kecil , tetapi kalau yang datang dalam jumlah ratusan orang ke salah satu kabupaten maka daya tampungnya belum bisa," katanya.

Ia mengatakan, satu-satunya hotel yang sudah mendunia yaitu Hotel Nihiwatu di Kabupaten Sumba Barat, namun menurutnya, hotel high class itu tidak efisien bagi wisatawan yang datang ke daerah itu terutama dari kalangan masyarakat menengah ke bawah.

"Kalau Hotel Nihiwatu memang kelasnya beda karena memang diperuntukkan bagi wisatawan `high class` atau orang berduit yang mampu membayar dengan harga terendah Rp8 juta rupiah per malam hingga harga tertinggi bisa mencapai lebih dari Rp200 juta per malamnya," katanya.

Menurutnya, investasi perhotelan yang cocok di daerah itu seperti umumnya hotel berbintang lainnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat maupun di Kota Kupang dengan harganya terjangkau dan daya tampung lebih besar.

Untuk itu, ia berharap kegiatan event besar seperti parade ribuan kuda Sandelwood dan festival tenun ikat yang akan digelar di 3-10 Juli mendatang di daerah itu dapat merangsang kehadiran investasi-investasi baru salah satunya di bidang perhotelan.

"Kita berharap dampak lanjutan dari kegiatan yang rencananya menghadirkan Bapak Presiden Jokowi berupa pertumbuhan investasi yang lebih marak lagi di daerah itu," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) NTT itu.

Selain itu, katanya, pemerintah daerah sejumlah kabupaten setempat memiliki peranan penting untuk lebih menyemangati lagi para investor agar mau berinvestasi dan mau membangun hotel berbintang.

"Tidak harus menunggu investor dari luar karena lebih sulit, banyak investor di daerah kita yang merupakan putra daerah yang mampu, tinggal saja pemerintah menyemangati mereka, memfasilitasi, dan memberi kepastian-kepastian untuk mulai membangun di daerah itu," katanya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026