Labuan Bajo (ANTARA) - Wakil Bupati (Wabup) Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Yulianus Weng mengimbau nelayan di daerah itu yang hendak melaut agar mewaspadai gelombang tinggi.
 
"Kami sarankan jangan dulu melaut, taati imbauan yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," katanya di Labuan Bajo, Minggu, (10/3/2023).
 
Yulianus menyampaikan hal tersebut menyusul peringatan dini BMKG bagi masyarakat NTT agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem hingga 14 Maret 2024.
 
Ia mengatakan angin kencang mengakibatkan kerusakan pada satu unit gedung sekolah di kepulauan yakni di Desa Pontianak, Kecamatan Boleng.
 
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah menerima laporan kejadian itu, namun belum bisa melakukan penanganan bencana karena terkendala gelombang tinggi.
 
"Saya sudah sampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk segera tindak lanjuti tetapi mereka tidak bisa turun karena gelombang tinggi," katanya.
 
Ia telah meminta BPBD untuk mengantisipasi dampak hujan deras dan angin kencang di seluruh wilayah di Kabupaten Manggarai Barat.
 
"Jika ada kejadian bencana untuk segera ditangani," katanya.
 
Ia juga mengatakan posko bencana akan dibangun pemerintah daerah jika kejadian bencana alam di daerah itu semakin meningkat.
 
"Surat penegasan akan terjadi bencana sudah diumumkan BPBD kepada Organisasi Perangkat Daerah dan camat agar hati-hati dan siap menangani bencana," katanya.
 
Sementara itu, BMKG mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat NTT agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem hingga 14 Maret 2024.
 
"Diharapkan masyarakat tidak panik dan lebih mengantisipasi dampak yang ditimbulkan," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Sti Nenotek di Kupang, Jumat (8/3).
 
Ia menjelaskan potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan disebabkan adanya pusaran angin masuk atau Sirkulasi Siklonik di bagian barat daya Australia, sehingga membentuk daerah perlambatan, pertemuan, dan belokan angin di wilayah NTT.
 
Selain itu, kondisi dinamika atmosfer juga didukung dengan aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Equatorial Rossby, serta hangatnya suhu permukaan laut dan kelembapan yang cukup basah di tiap lapisan atmosfer.
 
Hal itu mengindikasikan pasokan uap air di wilayah NTT cukup signifikan mendukung terjadinya peningkatan pertumbuhan awan hujan yang cukup intensif.
 
"Sehingga menyebabkan wilayah NTT berpotensi hujan sedang hingga sangat lebat, bahkan hujan ekstrem yang disertai petir dan angin kencang," kata Sti.

Baca juga: Pemda Mabar catat 1.497 pelamar di Job Fair Labuan Bajo

Baca juga: Wabup Mabar apresiasi Dubes RI untuk Kazakhstan jalin kerja sama

Baca juga: Bupati Mabar minta OPD tindaklanjuti temuan audit BPK
 
Potensi cuaca ekstrem ini, ucap Sti, dapat menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

Pewarta : Gecio Viana
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024