NTT ekspor 75 ton rumput laut ke China
Selasa, 19 Februari 2019 16:26 WIB
Dua petani rumput Laut sedang memanen rumput laut di pinggiran pantai Nemberala, Kabupaten Rote Ndao, NTT, Minggu (29/4). (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)
Kupang (ANTARA News NTT) - Nusa Tenggara Timur mengekspor sebanyak 75 ton rumput laut dalam bentuk alkali treated cottoni chips (ATCC) ke negeri Tirai Bambu China selama Januari 2019.
Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (KIPM) Kupang Jimmy Elwaren kepada Antara di Kupang, Selasa (19/2) mengatakan, rumput laut sebanyak itu bernilai sekitar 96.859 dolar AS.
Ia menjelaskan, produk rumpur laut yang diekspor tersebut dipasok dari Pulau Sumba yang dikelola oleh PT Algae Sumba Timur Lestari. "Jumlah yang diekspor ini juga cukup banyak dan sebagian lagi untuk kebutuhan domestik," katanya.
Rumput laut merupakan salah satu produk kelautan yang cukup potensial dari provinsi setempat karena terdapat hampir di setiap daerah pesisir di wilayah provinsi berbasiskan kepulauan itu.
Hasil budidaya, lanjutnya, sudah mulai diekspor sejak tahun 2018 lalu namun masih dalam jumlah yang relatif kecil.
"Seperti ekspor ke Filipina, Rusia, Argentina namun masih permintaan masih jumlah beberapa kilogram yang biasanya untuk uji coba awal," katanya.
Ia menambahkan, rumput laut yang diekpor tersebut tercatat mendominasi ekspor komoditi kelautan dan perikanan lainnya dari provinsi setempat.
Selain rumput laut, komoditi lain yang diekspor seperti ikan kering sebanyak 27,8 ton, ikan angoli 1,8 ton, fozen tuna 0,3 ton, skip jack 0,5 ton.
Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (KIPM) Kupang Jimmy Elwaren kepada Antara di Kupang, Selasa (19/2) mengatakan, rumput laut sebanyak itu bernilai sekitar 96.859 dolar AS.
Ia menjelaskan, produk rumpur laut yang diekspor tersebut dipasok dari Pulau Sumba yang dikelola oleh PT Algae Sumba Timur Lestari. "Jumlah yang diekspor ini juga cukup banyak dan sebagian lagi untuk kebutuhan domestik," katanya.
Rumput laut merupakan salah satu produk kelautan yang cukup potensial dari provinsi setempat karena terdapat hampir di setiap daerah pesisir di wilayah provinsi berbasiskan kepulauan itu.
Hasil budidaya, lanjutnya, sudah mulai diekspor sejak tahun 2018 lalu namun masih dalam jumlah yang relatif kecil.
"Seperti ekspor ke Filipina, Rusia, Argentina namun masih permintaan masih jumlah beberapa kilogram yang biasanya untuk uji coba awal," katanya.
Ia menambahkan, rumput laut yang diekpor tersebut tercatat mendominasi ekspor komoditi kelautan dan perikanan lainnya dari provinsi setempat.
Selain rumput laut, komoditi lain yang diekspor seperti ikan kering sebanyak 27,8 ton, ikan angoli 1,8 ton, fozen tuna 0,3 ton, skip jack 0,5 ton.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG ajak masyarakat waspadai potensi gelombang tinggi 4 meter di perairan NTT
21 January 2026 11:55 WIB
BMKG: Waspadai gelombang tinggi 2,5 meter hingga 14 Januari 2026 di perairan NTT
10 January 2026 16:24 WIB
BMKG: Waspadai potensi gelombang setinggi 2,5 meter di sejumlah perairan NTT
02 January 2026 10:12 WIB
BMKG: Waspadai gelombang setinggi 2,5 meter di laut NTT hingga 2 Desember
29 November 2025 11:20 WIB