Kupang (ANTARA) - Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membentuk tim kesehatan mental yang bertujuan untuk memberikan pembinaan bagi mahasiswa dan dosen di kampus tersebut.

Rektor Undana Prof Jefri S Bale di Kupang, Kamis, mengatakan pembinaan mental bagi mahasiswa dan dosen di Undana sangat diperlukan.

"Ternyata kasus bunuh diri paling banyak dialami oleh mahasiswa Undana karena berbagai tekanan, sehingga pembinaan mental mahasiswa perlu dilakukan," katanya.

Berdasarkan laporan dari Kepala Health Promotin University (HPU) and Mental Health Project Dr dr Nicholas Edwin Handoyo, dalam beberapa tahun terakhir Undana menyumbang kurang lebih 40 persen kasus mahasiswa meninggal dunia dengan cara bunuh diri.

Penyebabnya adalah banyak tekanan di kampus serta banyak tugas yang diberikan oleh dosen-dosennya.

Rektor Undana mengatakan pihaknya sudah memberikan perhatian serius sejak membentuk laskar sehat dan HPU yang fokusnya pembinaan dan pendampingan serta kesehatan mental dari mahasiswa.

"Ternyata kejadian anak bunuh diri di Ngada, terjadi juga di tingkat pendidikan yang lebih tinggi yakni perguruan tinggi," ujar dia.

Kasus terakhir seorang mahasiswa Undana bunuh diri, yakni pada tahun 2023 lalu, namun sejak tahun 2024 hingga 2025 tidak ada kasus bunuh diri dengan berdirinya HPU tersebut.

Menurut dia, proyek ini lahir sebagai respons konkret terhadap meningkatnya isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa, termasuk depresi yang jika tidak ditangani secara sistemik, dapat berdampak fatal.

Melalui kemitraan strategis dengan YKPAI dan MCC, Undana bertekad untuk memperkuat kapasitas institusional. Undana tidak hanya ingin mengobati, tetapi juga membangun ekosistem kampus yang suportif, ramah, dan tangguh.

Kepala Health Promotin University (HPU) and Mental Health Project Dr dr Nicholas Edwin Handoyo mengatakan selain banyaknya tekanan di kampus seperti tugas yang banyak, serta tekanan ekonomi di keluarga.

"Nah saat ini kan mahasiswa banyak, kita untuk langkah awal akan membentuk tim di kalangan mahasiswa, kemudian dari mahasiswa itulah memberikan pembinaan. Jadi intinya kita latih dulu, jika memang masalahnya berat baru tim psikolognya turun langsung," ujar dia.