Uskup Larantuka Tahbiskan 21 Calon Imam Katolik
Senin, 12 Juni 2017 15:22 WIB
Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr, Senin (12/6) menahbiskan 21 Diakon calon imam dalam Gereja Katolik di Seminari Tinggi Ledalero Maumere di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. (Foto ANTARA/Aloysius Lewokeda)
Maumere, Flores (Antara NTT) - Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kun, Senin, menahbiskan 21 diakon atau calon imam Gereja Katolik di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Mgr Fransiskus Kopong Kun dalam tahbisan (pemberkatan) bertema "Berbahagialah Yang Murah Hati", mengatakan bahwa dengan pentabisan itu, maka para diakon masuk menjadi golongan para klerus atau orang yang membaktikan hidup secara khusus sebagai pelayan altar dan pewarta Injil.
Ia berpesan supaya para diakon siap berkorban, menderita dalam melayani masyarakat terutama kaum-kaum miskin, orang-orang terpinggirkan, dan yang menderita.
"Tidak ada pelayanan yang paling mulia tanpa salib, yakni dengan pengorbanan, penderitaan, ketabahan, kesetiaan, dan murah hati," katanya.
Di dalam mewartakan firman dan melayani Tuhan, para diakon hendaklah berbangga, dan bersyukur karena diberikan kesempatan merasakan penderitaan Yesus Kristus.
Menurutnya, setiap insan dalam masyarakat sudah biasa melayani, namun yang menjadi istimewa dari pelayanan diakon atau iman ialah melayani dalam misteri salib Kristus.
"Arti utama dari pelayanan hidup kepada Tuhan adalah pada salibnya, karena di sanalah mengalir belas kasih, kemurahan Allah yang tidak kenal batas waktu, pengampunan, dan cinta kasih yang sempurna," katanya.
Dari salib itu, lanjutnya, para diakon, imam, sebagai pengikut Krsitus terus belajar tentang kerendahan hati dan arti pengorbanan dalam pelayanan.
Provinsial SVD Ende Pater Luksa Jua SVD, dalam sambutannya menambahkan tugas pelayanan utama yang diemban para diakon yaitu melayani kaum miskin dan mewartakan sabda Tuhan
"Tuhan telah memilih kamu untuk menjadi pelayan yang diutus untuk melayani meja kaum miskin dan meja sabda," katanya menyampaikan pesan untuk para diakon.
Menurutnya, tugas pelayanan harus diutamakan kepada masyarakat yang disebut sebagai kaum terakhir, artinya yang miskin, menderita, dikucilkan dari masyarakatnya.
Untuk itu, mulailah semua tugas pelayanan dengan semangat murah hati, siap berkorban untuk orang lain, katanya.
Mgr Fransiskus Kopong Kun dalam tahbisan (pemberkatan) bertema "Berbahagialah Yang Murah Hati", mengatakan bahwa dengan pentabisan itu, maka para diakon masuk menjadi golongan para klerus atau orang yang membaktikan hidup secara khusus sebagai pelayan altar dan pewarta Injil.
Ia berpesan supaya para diakon siap berkorban, menderita dalam melayani masyarakat terutama kaum-kaum miskin, orang-orang terpinggirkan, dan yang menderita.
"Tidak ada pelayanan yang paling mulia tanpa salib, yakni dengan pengorbanan, penderitaan, ketabahan, kesetiaan, dan murah hati," katanya.
Di dalam mewartakan firman dan melayani Tuhan, para diakon hendaklah berbangga, dan bersyukur karena diberikan kesempatan merasakan penderitaan Yesus Kristus.
Menurutnya, setiap insan dalam masyarakat sudah biasa melayani, namun yang menjadi istimewa dari pelayanan diakon atau iman ialah melayani dalam misteri salib Kristus.
"Arti utama dari pelayanan hidup kepada Tuhan adalah pada salibnya, karena di sanalah mengalir belas kasih, kemurahan Allah yang tidak kenal batas waktu, pengampunan, dan cinta kasih yang sempurna," katanya.
Dari salib itu, lanjutnya, para diakon, imam, sebagai pengikut Krsitus terus belajar tentang kerendahan hati dan arti pengorbanan dalam pelayanan.
Provinsial SVD Ende Pater Luksa Jua SVD, dalam sambutannya menambahkan tugas pelayanan utama yang diemban para diakon yaitu melayani kaum miskin dan mewartakan sabda Tuhan
"Tuhan telah memilih kamu untuk menjadi pelayan yang diutus untuk melayani meja kaum miskin dan meja sabda," katanya menyampaikan pesan untuk para diakon.
Menurutnya, tugas pelayanan harus diutamakan kepada masyarakat yang disebut sebagai kaum terakhir, artinya yang miskin, menderita, dikucilkan dari masyarakatnya.
Untuk itu, mulailah semua tugas pelayanan dengan semangat murah hati, siap berkorban untuk orang lain, katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB