Jakarta (Antara NTT) - Dewan Teh Indonesia (DTI) menilai perlu adanya pembenahan industri teh dalam negeri secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

        Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmat Badruddin, di Jakarta, Senin mengatakan ekspor komoditi teh Indonesia terus mengalami penurunan yang disebabkan produktivitas dalam negeri berkurang, daya saing industri teh kalah dibanding negara lain dan pemasaran masih terbatas.

        "Oleh karena itu pemasaran harus dibenahi, kemudian produksi dan kualitas yang konsisten," katanya dalam Forum Ekspor 2016 Peranan Komoditi Teh Indonesia di Era Persaingan Global.

        Rachmat mengatakan, selain kondisi areal perkebunan dan juga produksi teh di dalam negeri mengalami penurunan, hal yang sama juga terjadi pada harga komoditas yang sesungguhnya memiliki peranan strategis dalam perekonomian Indonesia itu.

        Tercatat, total ekspor teh dari Indonesia mengalami penurunan sejak 2009. Pada tahun itu, volume ekspor dari dalam negeri sebesar 100.000 ton senilai 180.000 dolar Amerika Serikat, kemudian anjlok pada tahun 2015 menjadi 40 juta dolar AS dengan volume 60.000 ton.

        Produksi teh juga menurun, dari sebelumnya pada tahun 2010 sebanyak 151.000 ton, menjadi 143.609 pada 2015. Total areal tanaman teh juga berkurang dari 122.797 hektar pada 2010 menjadi 119.361 hektar pada 2015.

        Selain itu juga terjadi kelebihan pasokan teh dunia, dimana konsumsi sebanyak 4,94 juta ton sementara produksi mencapai 5,2 juta ton.

        Penurunan harga tersebut, bukan hanya akibat dari kelebihan pasokan di dunia. Akan tetapi juga disebabkan menurunnya daya saing teh Indonesia akibat negara-negara produsen teh lainnya seperti India dan Sri Lanka mampu memperbaiki mutu dan produktivitas mereka.

        Tercatat pada akhir tahun 1980, produsen teh Indonesia sudah mulai membuat teh hijau untuk dijadikan komoditas ekspor. Namun, sejak tahun 2000 hingga 2015, harga teh Indonesia mengalami penurunan jika dibanding dengan negara produsen lainnya.

        "Saat ini, areal perkebunan, produksi dan harga turun akibat kelebihan pasok dunia. Perlu membangun industri teh berkelanjutan dari hulu sampai hilir," kata Rachmat.

        Dalam kesempatan itu, Direktur Operasional PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Tatang Supriatna mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan jumlah produksi dan kualitas. Namun, ada beberapa masalah seperti kondisi alam dan peningkatan komponen biaya produksi.

        "Kami sudah berupaya, tapi kondisi alam dan komponen biaya yang meningkat setiap tahun itu luar biasa dan tidak sebanding dengan kenaikan harga komoditas," katanya.

        Menurut dia, salah satu contoh areal perkebunan teh di Pengalengan, Jawa Barat, telah mengalami perubahan. Saat ini terjadi kenaikan suhu udara di wilayah tersebut jika dibandingkan dengan tahun 1980 lalu, dan hal itu berdampak terhadap produksi teh yang ada.

        Perkebunan teh di Indonesia, perlu revitalisasi menyeluruh baik dari sisi pemupukan maupun permesinan. Selain itu, perlu juga peningkatan efisiensi khususnya rantai pasok dan logistik, dan perlu dilakukan kegiatan promosi khususnya oleh pemerintah di negara-negara tujuan ekspor dan pasar baru.