BIG sebut Sumba Timur ada di pertemuan "outlet"' DAS
Senin, 19 April 2021 4:45 WIB
Peta yang disampaikan Badan Informasi Geospasial (BIG) yang menganalisa bencana banjir yang melanda Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/4/2021), terjadi karena wilayah itu menjadi pertemuan titik tuang (outlet) dari daerah aliran sungai (DAS). (FOTO ANTARA/HO-Humas BIG).
Jakarta (ANTARA) - Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan bencana banjir yang melanda Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/4), diperkirakan terjadi karena wilayah itu menjadi pertemuan titik tuang (outlet) dari daerah aliran aungai (DAS) sehingga rawan banjir.
"Wilayah seperti ini rawan diterjang banjir dan banjir bandang jika terkena limpasan air saat intensitas hujannya ekstrem," kata Koordinator Informasi Geospasial Tematik Kebencanaan (BIG), Ferrari Pinem, melalui pernyataan yang diterima di Jakarta, Minggu (18/4).
Ia menjelaskan simpulan tersebut setelah BIG melakukan kajian geomorfologis terhadap wilayah Kabupaten Sumba Timur yang terdampak siklon tropis Seroja.
Berdasarkan kajian, kata dia, lokasi terdampak banjir bandang yang ada di Pulau Sumba berada pada cekungan dataran banjir yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan.
Dataran banjir ini terbentuk pada lembah di antara pegunungan berbatuan vulkanik di sebelah utara dan perbukitan berbatuan sedimen di sebelah selatannya.
"Material yang terendapkan pada lembah ini berasal dari proses pengikisan material lereng pegunungan di sekelilingnya," katanya.
Proses sedimentasi, kata dia, membuat material alluvium, lempung, serta berbagai batuan yang berasal dari lereng kaki bukit menjadi mengendap.
"Pegunungan vulkanik di sebelah utara wilayah terdampak memiliki material dari Gunung Silo (GSO) dengan batuan berupa andesit, basalt, diorite, dan abbro," katanya.
Ia mengatakan pegunungan tersebut sudah menampakkan proses pengikisan, hal ini terlihat dari banyaknya DAS kecil yang terbentuk di lereng sebelah selatan yang langsung menghadap lembah.
"Material pegunungan ini terkikis dan terendapkan secara gravitasi di lereng kaki dan lembah yang ada di bawahnya," katanya.
Beberapa outlet DAS bertemu di kaki lereng dan masuk ke area lembah. Pertemuan outlet beberapa DAS menjadi area yang rawan terkena akumulasi limpasan air jika hujan turun secara merata di seluruh area lereng pegunungan, kata Ferrari Pinem.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Timur menginformasikan sebanyak 54 kepala keluarga (KK) atau 165 jiwa mengungsi, sedangkan 109 KK atau 475 jiwa terdampak oleh bencana banjir.
Baca juga: 5.000 rumah warga di Sumba Timur rusak diterjang badai Seroja
Baca juga: Bandara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur tutup akibat bencana
"Wilayah seperti ini rawan diterjang banjir dan banjir bandang jika terkena limpasan air saat intensitas hujannya ekstrem," kata Koordinator Informasi Geospasial Tematik Kebencanaan (BIG), Ferrari Pinem, melalui pernyataan yang diterima di Jakarta, Minggu (18/4).
Ia menjelaskan simpulan tersebut setelah BIG melakukan kajian geomorfologis terhadap wilayah Kabupaten Sumba Timur yang terdampak siklon tropis Seroja.
Berdasarkan kajian, kata dia, lokasi terdampak banjir bandang yang ada di Pulau Sumba berada pada cekungan dataran banjir yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan.
Dataran banjir ini terbentuk pada lembah di antara pegunungan berbatuan vulkanik di sebelah utara dan perbukitan berbatuan sedimen di sebelah selatannya.
"Material yang terendapkan pada lembah ini berasal dari proses pengikisan material lereng pegunungan di sekelilingnya," katanya.
Proses sedimentasi, kata dia, membuat material alluvium, lempung, serta berbagai batuan yang berasal dari lereng kaki bukit menjadi mengendap.
"Pegunungan vulkanik di sebelah utara wilayah terdampak memiliki material dari Gunung Silo (GSO) dengan batuan berupa andesit, basalt, diorite, dan abbro," katanya.
Ia mengatakan pegunungan tersebut sudah menampakkan proses pengikisan, hal ini terlihat dari banyaknya DAS kecil yang terbentuk di lereng sebelah selatan yang langsung menghadap lembah.
"Material pegunungan ini terkikis dan terendapkan secara gravitasi di lereng kaki dan lembah yang ada di bawahnya," katanya.
Beberapa outlet DAS bertemu di kaki lereng dan masuk ke area lembah. Pertemuan outlet beberapa DAS menjadi area yang rawan terkena akumulasi limpasan air jika hujan turun secara merata di seluruh area lereng pegunungan, kata Ferrari Pinem.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Timur menginformasikan sebanyak 54 kepala keluarga (KK) atau 165 jiwa mengungsi, sedangkan 109 KK atau 475 jiwa terdampak oleh bencana banjir.
Baca juga: 5.000 rumah warga di Sumba Timur rusak diterjang badai Seroja
Baca juga: Bandara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur tutup akibat bencana
Pewarta : Andi Firdaus
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenag mempercepat implementasi wajib halal di Kabupaten Sumba Timur NTT
11 February 2026 13:59 WIB
Pemkab Sumba Timur: Kunjungan wisatawan capai 30.340 orang per September 2025
15 November 2025 11:37 WIB
Pemerintah membantu layanan listrik gratis untuk 86 KK di Sumba Barat Daya
16 October 2025 22:15 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
KPAI menemukan pencairan dana PIP kasus anak akhiri hidup di NTT terkendala teknis bank
11 February 2026 13:50 WIB