Kurs rupiah menguat seiring tertekannya imbal hasil obligasi AS
Jumat, 21 Mei 2021 10:36 WIB
Ilustrasi: Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di kantor bank di Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak menguat, seiring tertekannya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
Rupiah dibuka menguat 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.345 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.375 per dolar AS.
"Dolar AS bertahan di level rendah pada awal sesi Jumat, setelah kembali melemah semalam karena turunnya tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Jumat, (21/5).
Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya pagi ini berada di level 89,793, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 89,808.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke level 1,63 persen karena investor mencermati komentar dari bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), yang menunjukkan kemungkinan pengurangan pembelian aset jika ekonomi pulih dengan cepat.
Baca juga: Dolar jatuh ke terendah 2,5 bulan
Risalah dari pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS baru-baru ini menyatakan bahwa beberapa pembuat kebijakan mengatakan diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi pemerintah akan tepat "di beberapa titik" jika pemulihan ekonomi terus meningkat.
Hal itu memberi dorongan pada dolar, yang telah merosot dalam beberapa pekan terakhir karena kepastian The Fed yang berulang bahwa terlalu dini untuk memperketat kebijakan akomodatifnya dan bahwa lonjakan harga-harga saat ini tidak menandakan inflasi jangka panjang.
Pada malam nanti, AS akan merilis laporan Flash Manufacturing & Services PMI diikuti laporan Existing Home Sales AS, yang dapat menggerakkan dolar AS.
Pada Kamis (20/5) rupiah ditutup melemah 85 poin atau 0,59 persen ke posisi Rp14.375 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.290 per dolar AS.
Rupiah dibuka menguat 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.345 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.375 per dolar AS.
"Dolar AS bertahan di level rendah pada awal sesi Jumat, setelah kembali melemah semalam karena turunnya tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Jumat, (21/5).
Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya pagi ini berada di level 89,793, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 89,808.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke level 1,63 persen karena investor mencermati komentar dari bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), yang menunjukkan kemungkinan pengurangan pembelian aset jika ekonomi pulih dengan cepat.
Baca juga: Dolar jatuh ke terendah 2,5 bulan
Risalah dari pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS baru-baru ini menyatakan bahwa beberapa pembuat kebijakan mengatakan diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi pemerintah akan tepat "di beberapa titik" jika pemulihan ekonomi terus meningkat.
Hal itu memberi dorongan pada dolar, yang telah merosot dalam beberapa pekan terakhir karena kepastian The Fed yang berulang bahwa terlalu dini untuk memperketat kebijakan akomodatifnya dan bahwa lonjakan harga-harga saat ini tidak menandakan inflasi jangka panjang.
Pada malam nanti, AS akan merilis laporan Flash Manufacturing & Services PMI diikuti laporan Existing Home Sales AS, yang dapat menggerakkan dolar AS.
Pada Kamis (20/5) rupiah ditutup melemah 85 poin atau 0,59 persen ke posisi Rp14.375 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.290 per dolar AS.
Pewarta : Citro Atmoko
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita 8.000 dolar Singapura dari penggeledahan kantor KPP Madya Jakut
13 January 2026 12:42 WIB
BI: Cadangan devisa akhir November 2025 meningkat menjadi 150,1 miliar dolar AS
05 December 2025 12:13 WIB
UEA menyiapkan 5 juta dolar AS untuk kembangkan pariwisata di Pulau Komodo
08 November 2025 3:35 WIB
Rupiah melemah karena kebijakan Donald Trump berpotensi menguatkan dolar AS
17 January 2025 2:00 WIB, 2025