Masyarakat Sumba diminta bangun rumah tahan gempa
Kamis, 31 Mei 2018 15:16 WIB
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTT Tini Tadeus
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tini Tadeus meminta masyarakat di Pulau Sumba membangun rumah tahan gempa untuk mengurangi risiko bencana.
"BPBD sudah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di Pulau Sumba. Kami selalu sarankan agar sebaiknya membangun rumah tahan gempa, karena wilayah itu selalu dilanda gempa," kata Tini Tadeus kepada Antara di Kupang, Kamis (31/5).
Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan upaya BPBD NTT untuk mengurangi risiko bencana di Pulau Sumba, sebagai daerah yang sering dilanda gempa.
Wilayah Pulau Sumba yang terbentang mulai dari Kabupaten Sumba Timur hingga Sumba Barat Daya, hampir setiap hari selalu diguncang gempa bumi. Berdasarkan catatan BMKG, salah satu wilayah di NTT yang hampir setiap hari dilanda gempa bumi adalah wilayah-wilayah di Pulau Sumba.
Baca juga: Gempa SBD akibat aktivitas sesar mendatar
Kondisi ini disebabkan, daerah Sumba khususnya dan NTT umumnya dikelilingi daerah tektonik, di selatan NTT terdapat zona subduksi dan di sekitar kepulauan NTT banyak sekali sesar atau patahan aktif yang mengakibatkan juga sering terjadi gempa di wilayah perairan laut maupun daratan.
Tini Thadeus menambahkan, sesungguhnya masyarakat Sumba harus bangga dengan karya leluhurnya yang telah membangun rumah dengan konstruksi tahan gempa.
Karena itu hendaknya masyarakat Sumba membangun rumah berdasarkan kontruksi bangunan khas Sumba yang telah ada hingga sekarang.
Bangunan rumah khas Sumba merupakan sebuah model kearifan lokal, warisan nenek moyang Sumba tahan gempa.
Karenanya model rumah Sumba harus dipertahankan demi mencegah resiko bencana alam menimpah rakyat daerah ini. "Nenek moyang, telah merancang model bangunan tahan gempa sehingga mereka dapat eksis hidup di bumi Marapu Sumba," katanya menjelaskan.
Baca juga: Gempa guncang Sumba Barat
"BPBD sudah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di Pulau Sumba. Kami selalu sarankan agar sebaiknya membangun rumah tahan gempa, karena wilayah itu selalu dilanda gempa," kata Tini Tadeus kepada Antara di Kupang, Kamis (31/5).
Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan upaya BPBD NTT untuk mengurangi risiko bencana di Pulau Sumba, sebagai daerah yang sering dilanda gempa.
Wilayah Pulau Sumba yang terbentang mulai dari Kabupaten Sumba Timur hingga Sumba Barat Daya, hampir setiap hari selalu diguncang gempa bumi. Berdasarkan catatan BMKG, salah satu wilayah di NTT yang hampir setiap hari dilanda gempa bumi adalah wilayah-wilayah di Pulau Sumba.
Baca juga: Gempa SBD akibat aktivitas sesar mendatar
Kondisi ini disebabkan, daerah Sumba khususnya dan NTT umumnya dikelilingi daerah tektonik, di selatan NTT terdapat zona subduksi dan di sekitar kepulauan NTT banyak sekali sesar atau patahan aktif yang mengakibatkan juga sering terjadi gempa di wilayah perairan laut maupun daratan.
Tini Thadeus menambahkan, sesungguhnya masyarakat Sumba harus bangga dengan karya leluhurnya yang telah membangun rumah dengan konstruksi tahan gempa.
Karena itu hendaknya masyarakat Sumba membangun rumah berdasarkan kontruksi bangunan khas Sumba yang telah ada hingga sekarang.
Bangunan rumah khas Sumba merupakan sebuah model kearifan lokal, warisan nenek moyang Sumba tahan gempa.
Karenanya model rumah Sumba harus dipertahankan demi mencegah resiko bencana alam menimpah rakyat daerah ini. "Nenek moyang, telah merancang model bangunan tahan gempa sehingga mereka dapat eksis hidup di bumi Marapu Sumba," katanya menjelaskan.
Baca juga: Gempa guncang Sumba Barat
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB