Nilai tukar Rupiah berpotensi menguat
Kamis, 27 Oktober 2022 12:30 WIB
Ilustrasi - Petugas menghitung uang dolar AS dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, KCU Melawai, Jakarta, Selasa (16/8/2022). ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/pri.
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis, (27/10/2022) berpotensi menguat di tengah isu perlambatan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed).
Rupiah pagi ini melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp15.564 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.563 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Kamis, mengatakan saat ini sedang berkembang ekspektasi bahwa bank sentral AS The Federal Reserve akan memperlambat kenaikan suku bunga acuannya mulai Desember mendatang.
"Ekspektasi ini mendorong pasar melepas aset dolar dan masuk lagi ke aset berisiko termasuk rupiah dan bisa mendorong penguatan nilai tukar rupiah lagi hari ini terhadap dolar AS," ujar Ariston.
Kendati demikian, lanjut Ariston, di sisi lain pasar masih mewaspadai kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.
"Kekhawatiran ini mendorong kenaikan harga aset berisiko menjadi tertahan," kata Ariston.
Data ekonomi yang melemah memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan memperlambat laju siklus kenaikan suku bunganya.
Pedagang dan ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin (bps) keempat kalinya berturut-turut pada pekan depan, tetapi ada spekulasi yang berkembang bahwa bank sentral akan memperlambat kenaikan suku bunga menjadi 50 bps pada Desember.
Pandangan bahwa The Fed dapat mulai berubah arah pada Desember diperkuat oleh data pada Selasa (25/10) yang menunjukkan harga rumah AS merosot pada Agustus karena lonjakan suku bunga KPR melemahkan permintaan.
Data penjualan rumah keluarga tunggal baru AS juga turun pada September dan data untuk bulan sebelumnya direvisi lebih rendah, mendukung pandangan bahwa kenaikan suku bunga The Fed sudah bekerja terhadap ekonomi terbesar di dunia itu.
Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak ke arah Rp15.500 per dolar AS dengan potensi resisten Rp15.600 per dolar AS.
Pada Rabu (26/10) lalu, rupiah ditutup menguat 60 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp15.563 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.623 per dolar AS.
Baca juga: Emas terangkat 11,20 dolar AS
Baca juga: IHSG berpeluang menguat seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah berpotensi menguat di tengah isu perlambatan kenaikan bunga Fed
Rupiah pagi ini melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp15.564 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.563 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Kamis, mengatakan saat ini sedang berkembang ekspektasi bahwa bank sentral AS The Federal Reserve akan memperlambat kenaikan suku bunga acuannya mulai Desember mendatang.
"Ekspektasi ini mendorong pasar melepas aset dolar dan masuk lagi ke aset berisiko termasuk rupiah dan bisa mendorong penguatan nilai tukar rupiah lagi hari ini terhadap dolar AS," ujar Ariston.
Kendati demikian, lanjut Ariston, di sisi lain pasar masih mewaspadai kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.
"Kekhawatiran ini mendorong kenaikan harga aset berisiko menjadi tertahan," kata Ariston.
Data ekonomi yang melemah memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan memperlambat laju siklus kenaikan suku bunganya.
Pedagang dan ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin (bps) keempat kalinya berturut-turut pada pekan depan, tetapi ada spekulasi yang berkembang bahwa bank sentral akan memperlambat kenaikan suku bunga menjadi 50 bps pada Desember.
Pandangan bahwa The Fed dapat mulai berubah arah pada Desember diperkuat oleh data pada Selasa (25/10) yang menunjukkan harga rumah AS merosot pada Agustus karena lonjakan suku bunga KPR melemahkan permintaan.
Data penjualan rumah keluarga tunggal baru AS juga turun pada September dan data untuk bulan sebelumnya direvisi lebih rendah, mendukung pandangan bahwa kenaikan suku bunga The Fed sudah bekerja terhadap ekonomi terbesar di dunia itu.
Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak ke arah Rp15.500 per dolar AS dengan potensi resisten Rp15.600 per dolar AS.
Pada Rabu (26/10) lalu, rupiah ditutup menguat 60 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp15.563 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.623 per dolar AS.
Baca juga: Emas terangkat 11,20 dolar AS
Baca juga: IHSG berpeluang menguat seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah berpotensi menguat di tengah isu perlambatan kenaikan bunga Fed
Pewarta : Citro Atmoko
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita 8.000 dolar Singapura dari penggeledahan kantor KPP Madya Jakut
13 January 2026 12:42 WIB
BI: Cadangan devisa akhir November 2025 meningkat menjadi 150,1 miliar dolar AS
05 December 2025 12:13 WIB
UEA menyiapkan 5 juta dolar AS untuk kembangkan pariwisata di Pulau Komodo
08 November 2025 3:35 WIB
Rupiah melemah karena kebijakan Donald Trump berpotensi menguatkan dolar AS
17 January 2025 2:00 WIB, 2025
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
BRI membantah disebut tolak pencairan dana PIP bocah yang meninggal di Ngada
12 February 2026 15:16 WIB
Mendes Yandri menerima audiensi 15 CEO perusahaan asal Inggris bahas listrik desa
12 February 2026 13:20 WIB