Logo Header Antaranews Kupang

BI-BMPD NTT Gelar Pasar Murah Jelang Natal

Jumat, 23 Desember 2016 10:28 WIB
Image Print
Gubernur NTT Frans Lebu Raya
"Pasar murah ini digelar dengan menyediakan 500 paket sembako berupa beras, minyak goreng, mi instan, dan lainnya dengan harga Rp50 ribu per paket," kata Gubernur Frans Lebu Raya.

Kupang (Antara) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengatakan Bank Indonesia Wilayah NTT bekerja sama dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD), menggelar pasar murah di Pasar Kasih Naikoten, Kota Kupang, menyambut hari raya Natal 2016.

"Pasar murah ini digelar dengan menyediakan 500 paket sembako berupa beras, minyak goreng, mi instan, dan lainnya dengan harga Rp50 ribu per paket," katanya ketika mengunjungi lokasi pasar murah tersebut, Kamis, (22/12).

Gubernur yang hadir bersama Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) itu mengatakan bahwa operasi pasar bertujuan mengedalikan harga menjelang Natal dan tahun baru.

"Sudah kami cek, rata-rata harga kebutuhan pokok untuk menyambut Natal tidak mengalami penaikan," katanya.

Ia mengatakan bahwa kenaikan harga barang kebutuhan yang paling menonjol adalah cabai mencapai Rp100 ribu/kilogram. Namun, ada yang masih berkisar Rp50 ribu/kg.

Sementara itu, harga daging ayam maupun sapi hingga saat ini masih normal meskipun pihaknya memperkirakan harga daging sapi naik di awal tahun 2017.

"Masih diperkirakan harga sapi naik pada bulan Januari atau Februari 2017 karena pada musim itu agak sulit mendapatkan pasokan daging sapi," katanya.

Di sela kunjungannya ke pasar murah, dilakukan pula sosialisasi mata uang rupiah baru kepada pedagang dan masyarakat setempat.

"Kami juga sengaja berbelanja dengan uang baru agar masyarakat lebih cepat familier dengan kehadiran uang baru ini. Kami juga sediakan mobil untuk penukaran uang," katanya pula.

Sesuai dengan penjelasan pihak Bank Indonesia bahwa uang baru tersebut ke depanya akan sulit dipalsukan.

Kendati demikian, dia meminta masyarakat untuk mengenal uang baru itu dengan baik ketika hendak melakukan transaksi jual beli barang-barang kebutuhan.

"Ketika orang lain menggunakan uang baru, masyarakat sudah mengetahui dan tidak menduga uang palsu," katanya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026