Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, Nusa Tenggara Timur memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui Program Building Effective Network (BEN) dan Meaningful Youth Participation (MYP) guna mendorong inklusivitas bagi anak dan remaja penyandang disabilitas.
“Pemkot Kupang menyambut baik langkah ini. Melalui BEN, kita beranjak menuju pendekatan kolaboratif yang sistemik dan berkelanjutan dalam mewujudkan kota yang inklusif bagi anak dan remaja dengan disabilitas,” kata Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis, di Kupang, Selasa.
Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan peluncuran Program BEN dan MYP Kota Kupang yang merupakan kolaborasi organisasi mitra lokal yakni Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT, Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (Garamin) NTT, dan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Kupang.
Serena menjelaskan kegiatan teknis tersebut merupakan gerakan moral dan sosial untuk menegakkan kesetaraan dan memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas penyandang disabilitas.
“Kita semua tahu bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan inklusi bagi anak dan remaja, terutama di wilayah yang jauh dari pusat-pusat pelayanan,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memprioritaskan isu inklusivitas dan mengembangkan kerja sama lintas sektor agar hak-hak anak dan remaja disabilitas dapat terpenuhi.
Serena berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat jaringan lokal dan memperdalam pemahaman atas kerangka kerja BEN sehingga pelaksanaannya sejalan dengan visi dan misi Pemkot Kupang.
Sementara itu, Koordinator Konsorsium Program BEN Kota Kupang Yafas Lay menjelaskan tujuan program tersebut adalah membangun kolaborasi sistemik berbasis jejaring antara organisasi masyarakat sipil dan organisasi penyandang disabilitas (OPDis), dengan pendekatan inklusif dan non-hirarkis.
“Dalam forum ini kami menyiapkan dan menyepakati bersama rencana tindak lanjut yang konkret untuk mewujudkan Kota Kupang yang inklusif,” katanya.
Ia menambahkan, program BEM yang diprakarsai oleh organisasi Lilian Fons dan NLR Indonesia sebagai upaya bersama pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan setara bagi penyandang disabilitas di Kota Kupang.
“Harapannya kegiatan ini semakin memperkuat kapasitas dan jejaring antarorganisasi mitra serta pemangku kepentingan daerah,” kata Yafas.

