Labuan Bajo (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 587 kasus tuberkulosis (TBC) ditemukan selama periode Januari hingga Oktober 2025 di sejumlah fasilitas kesehatan yang tersebar di daerah tersebut.
"Kami telah memproyeksikan penemuan kasus dan hingga Oktober 2025, kami telah menemukan 487 kasus atau 55,45 persen dari target 878 kasus dan ini menunjukkan komitmen kami yang berkelanjutan," kata Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat Adrianus Ojo dihubungi di Labuan Bajo, Sabtu.
Ia menambahkan, berdasarkan data yang dihimpun menunjukkan bahwa kelompok usia paling rentan pada 2025 adalah lansia di atas 65 tahun, dengan jumlah kasus sebanyak 49 kasus atau 15,12 persen dari total kasus TBC.
Lebih lanjut, berdasarkan sisi sebaran geografis Puskesmas Labuan Bajo menjadi wilayah dengan penemuan kasus tertinggi, yaitu 259 kasus pada 2024 dan 78 kasus pada 2025.
Sementara itu, kasus terendah pada 2024 ditemukan di Puskesmas Compang sebanyak dua kasus dan pada 2025 di Puskesmas Komodo sebanyak dua kasus.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat, lanjut dia, terus menggenjot penemuan dan penanganan kasus TBC guna mencapai target eliminasi TBC.
Ia menyebut, hingga Oktober 2024, capaian kasus yang ditemukan dan diobati telah melampaui 50 persen dari target tahunan.
"Sebelumnya pada periode Januari-Oktober 2024, kami telah menemukan dan menangani 537 kasus TBC dan angka ini mencapai persentase 61 persen dari target nasional sebanyak 880 kasus untuk 2024," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, proses penanganan TBC di Manggarai Barat berjalan tanpa kendala yang signifikan. Setiap kasus yang ditemukan langsung diberikan pengobatan dengan obat anti tuberkulosis (OAT).
"Kunci dari kelancaran penanganan ini adalah kolaborasi dan integrasi yang solid dari tim TBC di fasilitas kesehatan dan dukungan tenaga dokter spesialis di rumah sakit sangat membantu dalam proses penemuan, pemeriksaan, dan pengobatan kasus TBC dari hulu ke hilir," katanya.

