Sabuk Merah percepat pertumbuhan ekonomi perbatasan

id jalan sabuk merah

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Mota Ain di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). (ANTARA FOTO/Dok Kementerian PUPR).

Kementerian PUPR sedang membangun jalan Sabuk Merah di dekat perbatasan Provinsi NTT dengan Timor Leste, yang dinilai akan lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan RI.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang membangun jalan Sabuk Merah di dekat perbatasan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste, yang dinilai akan lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan RI.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra S. Atmawidjaja dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (21/5), mengatakan, jalur Sabuk Merah tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan beberapa pos keamanan sepanjang Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota Ain dan PLBN Motamassin saja.

Namun, menurut Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR tersebut, pembangunan jalur Sabuk Merah yang terletak di pinggir Indonesia itu pun juga mendukung perekonomian masyarakat setempat.

Salah satu potensi ekonomi yang bisa didorong adalah sektor pariwisata, di mana terletak sebuah sabana Fulan Fehan di Lamaknen, Kabupaten Belu, yang terlintasi Sabuk Merah sektor Timur.

Dengan adanya jalan tersebut, maka akan memudahkan wisatawan untuk berkunjung ke spot wisata yang unik dan eksotik ini. "Dulu sulit sekali ke Fulan Fehan ini. Dengan jalan perbatasan kini bisa lebih mudah dijangkau," kata Endra.

Di samping itu, ujar dia, pada kawasan sekitar Fulan Fehan pun terdapat komoditas perkebunan pohon kayu putih, kelor, dan jambu mete. Dengan adanya jalan tersebut maka akan lebih mudah untuk masyarakat meningkatkan skala produksi dan nilai tambah bagi produk lokal.

Baca juga: 80,10 km jalan sabuk-merah diaspal pada akhir tahun

Jalan Sabuk Merah Sektor Timur memiliki panjang 179,99 kilometer yang terbentang dari Kabupaten Belu hingga Kabupaten Malaka.

Dari 179,99 kilometer tersebut yang sudah tertangani dengan aspal hingga tahun 2018 adalah sepanjang 85 kilometer. Sedangkan pada 2019 akan bertambah dan sedang dikerjakan sepanjang 46 kilometer, sehingga sisanya akan dituntaskan pada tahun 2020 mendatang.

Sepanjang Jalan Sabuk Merah Sektor Timur tersebut rencananya akan dibangun sebanyak 44 buah jembatan dengan panjang 1600 meter. Saat ini di tahun 2018 telah terbangun sebanyak 31 buah jembatan dengan panjang 1250 meter.

Sedangkan sisanya pada tahun 2019 sendiri akan diselesaikan 13 buah jembatan. Adapun jembatan tersebut semuanya terbuat dari rangka baja dengan bentang rata-rata 60 meter.

Sedangkan Sabuk Merah di Sektor Barat di daerah Timur Tengah Utara (TTU) sepanjang 130,88 kilometer akan dilakukan penanganan apabila jalan Sabuk Merah di Sektor Timur telah seluruhnya tersambung.

Proses pengerjaan jalan perbatasan Sabuk Merah Sektor Timur tahun ini terbagi dalam beberapa paket yang dikerjakan oleh beberapa kontraktor lokal dan nasional.

Jalan Sabuk Merah Perbatasan Indonesia-Timor Leste ini punya arti penting karena akan menjadi akses pendekat ke garis perbatasan sehingga bisa mempermudah pengawasan garis perbatasan di dua negara tersebut.

Baca juga: Rp180 miliar bangun Sabuk Merah perbatasan
Baca juga: Sabuk Perbatasan Mudahkan Akses Petani

 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar