Logo Header Antaranews Kupang

Final Liga Europa: Sang raja melawan tim debutan

Rabu, 20 Mei 2026 15:02 WIB
Image Print
Selebrasi John McGinn (tengah) setelah mencetak gol untuk Aston Villa dalam pertandingan leg kedua semifinal Liga Europa 2025/26 di Villa Park pada Kamis (7/5/2026). (UEFA.com)

Jakarta (ANTARA) - Final Liga Europa 2025/2026 antara wakil Jerman Freiburg melawan wakil Inggris Aston Villa akan digelar dini hari nanti, Kamis (21/5) pukul 02.00 WIB, di Stadion Tupras, Istanbul, Turki.

Laga final ini akan mengantarkan kedua tim menuju kejayaan di kompetisi antar klub teratas kedua Eropa untuk pertama kalinya, setelah kedua tim belum ada yang memenangi turnamen ini.

Tak hanya menyoroti pertarungan pemain di lapangan, laga nanti juga akan menjadi panggung "sang raja" turnamen ini, Unai Emery, menghadapi pelatih debutan yang mencapai final Liga Europa, Julian Schuster.

Bukan hanya debutan di final, Schuster, yang memulai karier di dunia kepelatihan pada 2018, juga baru musim ini menukangi sebuah tim berlaga di kompetisi Eropa.

Sebagai perbandingan, Emery sudah paham betul caranya memenangi turnamen ini setelah memiliki pengalaman memimpin sebuah tim dalam 108 laga di kompetisi kasta kedua Eropa ini sejak 2009.

Dari 108 pertadingan, ia mengantongi 71 kemenangan, 22 seri, dan 15 kekalahan, dengan total gol yang timnya cetaka dalah 227 gol dan kebobolan 116 gol.

Emery dijuluki "Mister Europa League" atau "Raja Liga Europa" setelah empat gelar yang berhasil ia menangkan dari lima edisi masuk final. Empat gelar yang dimenangkan pelatih asal Spanyol itu terdiri dari tiga kali bersama Sevilla ketika menjadi juara berturut-turut pada 2013/2014, 2014/2015, dan 2015/2016, serta satu kali bersama Villarreal pada musim 2020/2021.

Empat kemenangan di final ini Emery persembahkan saat timnya mengalahkan tim-tim kuat Eropa, termasuk Liverpool-nya Jurgen Klopp pada 2015/2016 dan Manchester United-nya Ole Gunnar Solskjaer.

Sementara itu, satu-satunya kekalahan yang dirasakan Emery adalah saat menukangi Arsenal pada 2018/2019, yang ketika itu mereka dikalahkan Chelsea pada partai puncak yang kala itu ditukangi Maurizio Sarri.

Titel pelatih tersukses di Liga Europa paling mendekati Emery adalah Giovanni Trapattoni dengan tiga gelar, yaitu bersama dua kali bersama Juventus dan satu kali bersama Inter Milan. Trapattoni, pelatih Italia yang kini berusia 87 tahun, sudah lama pensiun dari dunia sepak bola pada 2013.


Perjalanan musim ini

Baik Freiburg dan Villa sama-sama superior menjalani kompetisi Liga Europa musim ini. Freiburg menyelesaikan babak liga di posisi ketujuh dengan 17 poin, hasil lima kemenangan, dua seri, dan satu kekalahan.

Di babak gugur, Freiburg memulainya dengan kekalahan 0-1 dari Genk, namun kemudian lolos ke babak perempat final setelah menghajar wakil Belgia itu dengan skor 5-1 di leg kedua.

Ketajaman permainan Freiburg kemudian berlanjut di babak perempat final saat mereka mengalahkan wakil Spanyol Celta Vigo 3-0 dan 3-1. Di semifinal, mental pemenang mereka tunjukkan saat mengakhiri nasib wakil Portugal Braga dengan agregat 4-3.

Di babak ini, Freiburg menelan kekalahan 1-2 di leg pertama, namun kemudian bangkit pada leg kedua yang mereka menangkan dengan skor 3-1.

Secara total, Freiburg mencapai babak final dengan rekor sembilan kemenangan, dua seri, dan tiga kekalahan. Pasukan Schuster itu mememasukkan 25 gol dan 10 kebobolan.

Freiburg melaju ke final Liga Europa 2025/26 usai singkirkan Braga di leg kedua semifinal di Europa Park Stadium, Freiburg pada Kamis (7/5/2026). (UEFA.com)


Sementara Villa, tim yang pernah memenangi Liga Champions itu mengakhiri babak liga di peringkat kedua dengan 21 poin yang merupakan hasil dari tujuh kemenangan dan satu kekalahan.

Memiliki pengalaman bermain di Liga Champions musim sebelumnya, Villa memulai perjalanan di babak gugur, babak 16 besar, dengan meyakinkan. Mereka mengalahkan wakil Prancis Lille, klub yang dihuni pemain timnas Indonesia Calvin Verdonk, dengan agregat 3-0.

Villa kemudian tak menemui hambatan berarti ketika melumat Bologna dengan agregat 71 pada babak perempat final, dimulai dari kemenangan tandang 3-1 dan 4-0 di kandang sendiri.

Di semifinal, Villa mendapatkan ujian berat dari Nottingham Forest, yang juga pernah memenangi Liga Champions, yang mengalahkan mereka dengan skor 0-1 melalui gol penalti Chris Wood pada leg pertama.

Setelah kekecewaan dari leg pertama, Villa bermain sempurna di leg kedua, ketika mereka mengakhiri impian Forest untuk melangkah ke final dengan kemenangan empat gol tanpa balas melalui dua gol John McGinn, Emiliano Buendia, dan Ollie Watkins.

Perjalanan Villa sampai babak final ditutup dengan 12 kemenangan dan dua kekalahan. Sepanjang 14 laga yang telah dijalani, tim yang sudah memastikan tiket ke Liga Champions musim depan itu total mencetak 28 gol dan kemasukan delapan gol.



Komentar kedua pelatih

Bagi Schuster, laga final ini merupakan sesuatu yang "sangat spesial" baginya, juga bagi Freiburg yang 10 tahun lalu masih berlaga di divisi kedua sepak bola Jerman.

Freiburg baru promosi pada musim 2016/2017 setelah satu musim sebelumnya mereka menjadi juara di Bundesliga 2.

"Ini sangat spesial. Belum lama ini kami masih berada di divisi kedua, dan sekarang akan bermain di final Eropa. Saya punya kepercayaan besar kepada tim saya, dan mereka memberi saya keyakinan itu karena kualitas yang kami miliki sangat besar," kata pelatih asal Jerman berusia 41 tahun itu.

Schuster mengakui bahwa Villa memiliki "skuad luar biasa" untuk memenangkan turnamen ini. Namun, ia mengatakan bahwa timnya juga bisa menaklukkan tim asuhan Emery tersebut.

Adapun, memenangkan Liga Europa akan sangat berharga untuk Freiburg, karena di saat yang sama mereka akan mendapatkan tiket bermain di Liga Champions pada musim depan, setelah musim ini finis di posisi ketujuh Liga Jerman.

"Saya tidak gugup, kami punya kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk menghadapi tim hebat dan pelatih hebat besok," kata dia.

Sementara itu, Emery akan memanfaatkan pengalaman timnya bermain di Eropa dalam tiga musim terakhir, untuk memenangkan Liga Europa. Dalam tiga musim ke belakang, Villa mencapai semifinal Liga Konferensi Eropa, lalu semusim berikutnya bermain sampai perempat final Liga Champions.

Kini, Villa melaju sampai final Liga Europa dan Emery kali ini tak ingin membuang kesempatan sia-sia.

"Kami telah memainkan cukup banyak pertandingan di Eropa, dan pengalaman-pengalaman itu sangat penting bagi kami. Cara kami bermain sepanjang proses musim ini, cara kami bermain musim lalu, leg pertama, leg kedua, berbagai babak, fase grup, dan bagaimana sekarang ini menjadi babak baru untuk memainkan satu final. Tetapi kami harus berjuang dengan semua yang kami miliki, membangun, belajar, dan mencoba menunjukkannya besok di lapangan," kata Emery.

Lebih lanjut, soal titel "raja" di kompetisi ini, Emery seolah mengatakan bahwa yang lalu biarlah berlalu. Menurutnya, final Liga Europa bersama Villa adalah sebuah hal yang baru.

"Kemenangan sebelumnya tidak akan membuat saya menang besok. Saya harus menang besok bersama para pemain yang saya miliki sekarang, bersama Aston Villa saat ini, melawan lawan yang kami hadapi sekarang. Ini momen baru, jalan baru, dan semoga era baru," kata pelatih 54 tahun tersebut.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Final Liga Europa: Ketika sang raja melawan debutan



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026