Logo Header Antaranews Kupang

Satu Penderita DBD Meninggal

Kamis, 16 Februari 2017 19:30 WIB
Image Print
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr Ari Wijana
"Saat dirujuk ke rumah sakit, pasien tersebut sudah dalam kondisi parah di great tiga dan akhirnya tidak tertolong dan meninggal," kata dr Ari Wijaya.

Kupang (Antara NTT) - Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr Ari Wijana mengatakan satu penderita demam berdarah dengue (DBD) meninggal dunia, karena terlambat ditangani secara intensif oleh paramedis.

"Saat dirujuk ke rumah sakit, pasien tersebut sudah dalam kondisi parah di great tiga dan akhirnya tidak tertolong dan meninggal," kata dr Ari menjawab perkembangan penyakit pancaroba seperti demam berdarah dengue (DBD) di wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, Kamis.

Secara keseluruhan hingga saat ini, terdapat 39 pasien DBD yang dirawat di sejumlah rumah sakit di daerah itu. Hal ini karena kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang tinggi dan konstan yang terjadi di daerah ini dalam dua pekan terakhir ini.

Meskipun berjumlah 39 dengan status great satu, namun jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding periode sama di tahun sebelumnya yang mencapai angka di atas 40 kasus.

Langkah-langkah prefentif promotif yang dilakukan bekerja sama dengan pihak puskesmas dan puskesmas pembantu juga terus dilakukan bahkan sudah sampai kepada pelaksanaan foging fokus di radius daerah tempat domisili para penderita berasal.

Hingga saat ini sebut bekas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang itu, sudah dilakukan sebanyak 22 kali fokus dengan pola 22x200 meter melingkar di sejumlah daerah yang dari hasil studi menjadi basis pengembangbiakan jentik anophles penyebar DBD.

"Boleh jadi di lingkungan yang berdekatan terdapat dua pasien makanya dilakukan foging melingkar," katanya.

Untuk antisipasi, Dinas Kesehatan menyediakan abate di setiap puskesmas dan puskesmas pembantu secara gratis dan bisa diambil oleh warga untuk ditabur di setiap tempat air yang bisa menjadi tempat pembiakan jentik nyamuk anopheles.

Terhadap kesiapan logistik obat-obatan dan paramedis di puskesmas serta pustu, dr Ari memastikan sangat tersedia dalam bentuk prefentif dan promotif.

Warga diminta untuk langsung melakukan pemeriksaan ke puskesmas atau pustu atau melakukan komunikasi dengan unit Berigade Kupang Sehat (BKS) agar pasien yang diduga menderita DBD segera bisa tertangani.

"Jangan sampai terlambat karena bisa membahayakan nyawa dan meninggal sama seperti pasien yang meninggal itu," katanya.

Jika sudah terdapat gejala panas tinggi disertai mual dan munta, agar bisa langsung dilarikan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. "Apalagi anak-anak sangat rentan karena daya tahan tubuhnya sangat kurang dibanding orang dewasa," katanya.

Memang diakuinya DBD merupakan sebuah peristiwa atau kejadian yang merupakan siklus tahunan di tengah perubahan cuaca yang terjadi. Oleh karenannya penting bagi masyarakat untuk menjaga dan melindungi dirinya dan lingkungannya dari sejumlah kemungkinan terdampak penyakit itu.

"Sanitasi lingkungan harus tetap dijaga, pola hidup sehat juga harus dilakukan serta penerapan Pola 3M plus dengan mengubur, membuang dan menutup sejumlah barang yang bisa menjadi sarang pengembang biakan jentik nyamuk anopheles," katanya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026