Menerangi Pulau Sumba Dengan EBT

id EBT di Sumba, energi terbarukan

Menerangi Pulau Sumba Dengan EBT

Seorang wanita membersihkan solar cell yang berlumut di Sumba Timur. (Antara Foto/Hivos)

Kupang (Antara NTT) - Pulau Sumba, sebuah pulau besar yang terbagi dalam empat kabupaten, yakni Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah hanya memiliki luas wilayah sekitar 10.710 kilometer persegi.

Walaupun pulau tersebut tidak terlalu luas, namun sumber daya alam yang terkandung di dalamnya berupa energi baru terbarukan (EBT) berpotensi membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di pulau yang terkenal dengan Pasolanya itu.

Sejak Program Indonesia Terang (PIT) diluncurkan pertama kali pada Mei 2016 lalu oleh Pemerintah Indonesia, program tersebut telah menghasilkan beberapa capaian yang bertujuan untuk melakukan percepatan penyediaan listrik ke daerah-daerah yang selama ini masih belum terlayani dengan listrik.

EBT merupakan salah satu program Kementerian ESDM untuk mewujudkan Program Indonesai Terang tersebut. "Sumba Iconic Island" merupakan salah satu program pemerintah dalam mewujudkan program tersebut.

Sumba dijuluki sebagai Sumba Iconic Island dikarenakan memiliki beragam sumber daya alam, berupa energi baru terbarukan yang dapat dikembangkan, sehingga penerangan bisa sampai ke seluruh pelosok pulau tersebut.

Menurut studi dari Bank Pembangunan Asia (ADB), Pulau Sumba yang dikenal dengan tradisi Pasolanya tersebut memiliki empat potensi EBT, di antaranya seperti listrik tenaga air (mikrohidro), bendungan pembangkit listrik (hydro storage), pembangkit listrik tenaga angin, serta pembangkit listrik tenaga matahari (tenaga surya).

"ADB pada Desember tahun lalu mengidentifikasi ada 300 lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi minigrid dengan biaya yang sangat rendah untuk pengembangan mikrohidro," kata Manajer Proyek Energi Hijau dari Perusahaan Pengembangan Energi Baru Terbarukan Hivos (Humanis Institute for Cooperation with Developing Countries) Sandra Winarsa.

Sebanyak 300 lokasi tersebut kemudian disaring lagi menjadi 100 lokasi yang saling berdekatan (kurang lebih satu kilometer), dan dari hasil penyaringan tersebut dipilih lagi menjadi 40 lokasi yang memiliki debit air terbaik dan berdekatan dengan kawasan permukiman.

Sebanyak 40 lokasi tersebut tersebar pada 22 desa di Pulau Sumba, baik di Sumba Timur, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

Kemudian untuk pengembangan bendungan pembangkit listrik (hydro storage) menurut studi dari ADB menyatakan potensi pembangkit listrik dari bendungan mampu memghasilkan 8,5 MW daya listrik.

ADB juga mengidentifikasikan dua daerah aliran sungai terbesar dengan jaringan PLN, yakni Sungai Memboro di Praikalala dan Sungai Kandahang.

Sedangkan pembangkit listrik tenaga angin di kawasan Hambapraing berpotensi menghasilkan aliran listrik bertenaga angin sebesar 10 MW yang dapat dipasok dengan menggunakan 12 turbine berkapasitas 0,85 MW.

Saat ini Kementerian ESDM sedang mengembangkan kebijakan tarif untuk energi angin. Tarif yang ditetapkan untuk pulau-pulau di Indonesia timur mencapai 28 sen dolar AS per kWh.

Kebijakan dan peraturan yang ada saat ini mengharuskan PT PLN untuk melakukan studi integrasi jaringan guna menentukan tingkat penetrasi energi angin.

"Jadi kalau ada pengembang usaha yang berminat investasi dalam bidang ini, maka mereka wajib melakukan minimal satu tahun berupaya pengukuran tenaga angin," katanya lagi.

Terakhir adalah potensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar cell. Sebagai daerah tropis Pulau Sumba memiliki rata-rata pancaran sinar surya sebesar 5 kWh/m/hari, dengan matahari bersinar selama lima jam sehari dengan radiasi sebesar 1.000 watt/m, dengan luas 11,153 km. Potensi energi surya ini dapat dikembangkan sebesar 10 MW.

Menurut Sandra hampir semua lokasi di Pulau Sumba layak untuk menggunakan sistem instalasi PLTS baik yang dipasang secara perseorangan seperti PLTS tersebar atau PLTS jaringan tersambung. "Hal ini karena semua lokasi di Pulau Sumba memiliki insolasi atau pancaran matahari yang baik," kata dia pula.

Saat ini, 55 persen kebutuhan listrik masyarakat di Pulau Sumba dipasok dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Sandra, Program Pulau Ikonik Sumba berhasil meningkatkan rasio elektrifikasi Sumba dari 24,5 persen pada tahun 2010 menjadi 42,67 persen pada tahun 2015.

Peningkatan tersebut menurut Sandra, berkat kontribusi pengembangan EBT yang berhasil memasok 5,7 MW kapasitas terpasang.

Capaian tersebut baru sekitar 17,5 persen dari target Rencana Umum Penyediaan Energi Sumba (RUPES) yang menargetkan capaian 65 persen kontribusi EBT pada 2020, agar mampu mencapai 95 persen rasio elektrifikasi Sumba.

"Jika pada 2020 target tersebut telah tercapai, saya yakin EBT dapat menjadi salah satu tulang punggung untuk membantu sistem kelistrikan di Pulau Sumba baik itu di Sumba bagian timur serta Barat, Sumba barat daya serta Sumba tengah," ujarnya.

Keberadaan Hivos di Sumba, lanjutnya, untuk membantu PT PLN memberikan penerangan pada hampir semua daerah pelosok yang belum terjangkau oleh listrik, dengan menggunakan EBT yang telah dikembangkan sejak 2010.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maritje Hutapea dalam rapat pleno ke-11 di Kupang belum lama ini menilai, perlu bantuan sejumlah pihak dalam menyukseskan program tersebut di Sumba, apalagi tinggal beberapa tahun lagi agar target rasio elektrifikasi Sumba itu bisa terwujud.

Sampai dengan Desember 2015 sudah ada dua investor yang bersedia membangun pembangkit EBT di Sumba, yakni Eren/Pace Energy dan PT Aria Watala Capital.

Eren/Pace Energy akan didukung oleh Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I) merencanakan membangun proyek hybrid surya-angin 10 megawatt (MW) terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 4 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 6 MWp dilengkapi baterai berkapasitas 15 MW, di Desa Hamba Praing, Kecamatan Haharu, Sumba Timur.

Sampai dengan tahun 2016, total kapasitas EBT di daerah itu telah mencapai 6,76 MW dengan total nilai investasi sebesar Rp160 miliar, dan untuk 2017 program ini akan mendapatkan investasi yang cukup signifikan melalui program Kerja Sama Kemitraan Hijau antara Hivos dan MCA-I sejumlah 4,7 juta dolar AS atau setara Rp60 miliar.

"Kontribusi energi terbarukan juga telah mulai mengambil peranan pada bauran energi Pulau Sumba yang telah mencapai 12,70 persen, dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2010 belum ada kontribusi energi terbarukan pada pemenuhan kebutuhan energi di Pulau Sumba," ujarnya lagi.

Maritje meyakini, jika ada investor yang mampu masuk dan berinvestasi mengembangkan proyek tersebut, maka diyakini sampai dengan 2020 nanti seluruh Pulau Sumba akan menjadi terang, tidak hanya di perkotaan tetapi juga sampai dengan pelosok desa.

Pemerintah Provinsi NTT tidak tinggal diam melihat berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki di Pulau Sumba tersebut.

Pemprov NTT terus mendorong pihak swasta untuk bermitra demi memanfaatkan potensi energi baru terbarukan (EBT) di Pulau Sumba.

Namun Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatkan Energi Dinas Pertambangan dan Energi NTT Rudi George Baten menyatakan, permasalahan infrastruktur seperti jalan selalu menjadi kendala bagi investor untuk program pengembangan EBT tersebut.

"Kendala kami saat ini adalah masalah infrastrutur, hal pertama yang dilihat adalah masalah jalan di daerah Sumba. Inilah yang masih terus diperjuangkan," ujarnya.

NTT, menurutnya, mempunyai berbagai potensi untuk pengembangan EBT. Karena itu, pihaknya telah memetakan 13 lokasi yang mumpuni untuk pengembangan EBT.

Sejumlah lokasi tersebut adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb) Atadei di Kabupaten Lembata dengan kepasitas 2x2,5 megawatt (MW), dan PLTPb Sukorio di Kabupaten Ende berkapasitas 2x2,5 MW.

Ada juga rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2x4 MW, PLTU Apoik berkapasitas 4x6 MW dan PLTU Waingapu 2x4 MW.

Selain itu, ada rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) di Kabupaten Ngada dengan kapasitas 60 KW, PLTM Waigaret di Kabupaten Manggarai dengan kapasitas 80 KW, dan PLTM Lokomboro di Sumba Barat Daya dengan kapasitas 800 KW.

"Selain itu, program EBT lainnya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid Nemberala di Kabupaten Rote Ndao. PLTH ini berkapasitas 147 KW di Pulau Rote, terdiri atas tenaga surya 22 KW, tenaga bayu 90 KW, dan tenaga diesel 135 KW," katanya pula.

Sedangkan dii Pulau Timor, kata dia lagi, ada program pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan kapasitas 1 MW. Sumber energi listrik dari PLTB ini akan dipasok melalui jaringan Pulau Timor.

Semua upaya terobosan pemanfaatan energi baru dan terbarukan itu diharapkan mendukung target melistriki dan menerangi seluruh Pulau Sumba.
Pewarta :
Editor: Imansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar