Logo Header Antaranews Kupang

PM Australia tanggapi serius suara YPTB

Senin, 12 November 2012 15:47 WIB
Image Print

Kupang (Antara NTT) - Perdana Menteri Australia Julia Gillard menanggapi serius suara Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) yang menuding negeri Kanguru itu telah merampas harta kekayaan rakyat Timor barat NTT di Laut Timor seperti minyak dan gas bumi.

"Ini sebuah kemajuan yang luar biasa, karena persoalan tersebut diutarakan Gillard ketika berlangsungnya pertemuan trilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, PM Timor Leste Xanana Gusmao dan PM Australia di Nusa Dua, Bali, Jumat (9/11), pekan lalu," kata Ketua YPTB Ferdi Tanoni di Kupang, Senin.

Dalam pertemuan trilateral tersebut, kata mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu, PM Australia Julia Gillard memberi apresiasi khusus terhadap suara dari YPTB tersebut, namun dalam nada diplomatis ia mengatakan pertemuan antara pemimpin ketiga negara tersebut merupakan pertama kali.

"15 tahun lalu tidak ada yang dapat memprediksi, Indonesia, Australia dan Timor Leste akan duduk bersama, namun hari ini hal itu diwujudkan," ujarnya kepada pers.

Ini adalah pertama kalinya para pemimpin ketiga negara bertemu, lebih dari satu dasawarsa setelah Australia memainkan peranan penting dalam kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia.

Gillard mengatakan, pertemuannya dengan Presiden SBY dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao, difokuskan pada bagaimana mereka bekerja sama dalam infrastruktur yang kemudian dilukiskan sebagai sebuah "konektivitas".

Tanoni yang juga pemerhati masalah Laut Timor itu sebelumnya mengatakan kekayaan yang dimiliki rakyat Timor Barat, Nusa Tenggara Timur di Laut Timor seperti minyak dan gas bumi, telah dirampas semuanya oleh Australia.

Atas dasar itu, Bali Demokrasi Forum (BDF) yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Australia Julia Gillard harus membahas secara demokratis hak-hak dan kepentingan rakyat Timor bagian barat NTT atas kekayaan yang terkandung di Laut Timor

Dia mengatakan, kekayaan alam yang terkandung di Laut Timor seperti minyak dan gas bumi yang telah dirampas oleh Australia, harus dikembalikan kepada rakyat Timor Barat. "Kami harapkan agar kepala pemerintahan kedua negara (Indonesia-Australia) dapat menjunjung tinggi hak-hak demokrasi rakyat Timor Barat yang patut disuarakan dalam BDF," ujarnya.

Ia berpendapat seluruh kekayaan migas di Laut Timor sebesar-besarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat Timor Barat, Timor Leste dan Australia bagian utara dan barat secara adil.

Pernyataan Tanoni ini juga disampaikan langsung kepada Presiden SBY, PM Australia Julia Gillard dan Dubes Australia melalui Twitter.

Dalam konferensi pers seusai pertemuan tersebut, Julia Gillard mengharapkan pertemuan trilateral antara Indonesia, Australia dan Timor Leste berlangsung secara konstruktif demi meningkatnya kerja sama antara ketiga negara tersebut.

Tanoni menanggapi pertemuan tersebut dengan mengatakan dukungan dan persetujuannya, akan tetapi akan lebih elegan dan demokratis bila pertemuan ketiga kepala negara tersebut lebih diutamakan pada perundingan kembali seluruh batas perairan ketiga negara di Laut Timor dengan menggunakan prinsip internasional "median line" atau haris tengah untuk menetapkan sebuah batas perairan yang baru dan permanen.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026