Pelajar SD-SMP di Sikka jadi korban serangan DBD

id DBD di Sikka,DBD Sikka

Pelajar SD-SMP di Sikka jadi korban serangan DBD

Bupati Sikka Fransisko R Diogo (tengah) sedang memimpin langsung rapat koordinasi penanganan penyakit DBD di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT. (ANTARA FOTO/HO-Humas Setda Kabupaten Sikka).

"Para penderita DBD di Kabupaten Sikka saat ini didominasi oleh pelajar, karena hampir sekitar 70 persen penderitanya adalah pelajar SD dan SMP," kata Awales Syukur...
Kupang (ANTARA) - Sebanyak 135 orang dari 194 penderita penyakit Demam Berdarah Bengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan siswa SD dan SMP.

"Para penderita DBD di Kabupaten Sikka saat ini didominasi oleh pelajar, karena hampir sekitar 70 persen penderitanya adalah pelajar SD dan SMP," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Sikka Awales Syukur ketika dihubungi Antara dari Kupang, Minggu (26/1).

Ia mengatakan, kasus DBD di Sikka, Pulau Flores sejak awal Januari 2020 terus meluas dan menyerang penduduk di wilayah utara Pulau Flores itu hingga mencapai 194 orang dan mengakibatkan dua orang di antaranya meninggal dunia.

Tingginya penderita DBD dari kalangan pelajar ini yang tampaknya mendorong Pemerintah Kabupaten Sikka untuk melakukan sosialisasi tentang kebersihan lingkungan di semua lembaga pendidikan yang ada di daerah itu.

"Pak Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga juga turun langsung ke sekolah-sekolah di Kota Maumere untuk memberikan edukasi kepada siswa tentang bagaimana menjaga kebersihan lingkungan sekolah sehingga terhindari dari serangan penyakit DBD," kata Awales Syukur.

Dia menambahkan pemerintah Kabupaten Sikka juga sedang gencar melakukan fogging di sekolah-sekolah dan rumah-rumah penduduk guna mengelimansi nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab timbulnya DBD.
Bupati Sikka Fransisko R Diogo sedang melihat dari dekat kondisi pasien DBD yang sedang menjalani perawatan di RSUD TC Hillers Maumere, di ibu kota Kabupaten Sikka, (ANTARA FOTO/HO-Humas Setda Kabupaten Sikka).
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar