
Litbang Perlu Adakan Riset Hama Belalang

Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) setempat perlu segera mengadakan riset ilmiah yang serius terkait hama belalang kumbara yang menyerang wilayah Pulau Sumba saat ini.
Kupang (Antara NTT) - Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur Winston Rondo meminta Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) setempat perlu segera mengadakan riset ilmiah yang serius terkait hama belalang kumbara yang menyerang wilayah Pulau Sumba saat ini.
"Riset ilmiah itu perlu diadakan agar masalah hama belalang yang menyerang lahan pertanian di wilayah Sumba Timur dan sekitarnya hampir setiap tahun itu bisa mendapat penanganan yang tepat untuk jangka panjang," katanya kepada wartawan di Kupang, Kamis.
Anggota DPRD NTT dari F-Demokrat itu mengatakan pada tahun lalu hama belalang tersebut muncul meskipun sudah bisa ditangani tapi ternyata tindakan itu semata-mata pencegahan jangak pendek.
Laporan Dinas Sosial setempat menunjukkan sudah 22 kecamatan di Sumba Timur yang telah terserang hama belalang kumbara dengan tingkat keparahan menyebar di tujuh kecamatan.
Ia mengatakan, akibat penyebaran hama yang cepat dan masif itu, pihak dewan telah mendesak pemerintah melalui instansi terkait untuk turun ke lapangan melakukan penanganan.
"Instansi terkait BPBD, Dinas Petanian, Dinas Sosial sudah turun langsung ke lapangan untuk melakukan langkah penanganan dan mencegah penyebarluasannya," katanya.
Namun menurutnya, pola penanganan serangan hama belalang masih dengan cara yang sama dengan penyemperotan obat peptisisda yang justeru dikhawatirkan merusak tanaman dan lingkungan sekitarnya.
Di sisi lain, lanjutnya, pemerintah Sumba Timur maupun provinsi belum memiliki alternatif penanganan lainnya selain menggunakan peptisida karena tingkat penyebaran yang cepat dan masif.
"Bahkan hama belalang sudah meluas ke areal-areal baru seperti di Bandara, pekarangan rumah warga, bahkan wilayah perkotaan di di sana," katanya.
Menurutnya, pemerintah kabupaten setempat juga telah bergerak cepat karena begitu serangan semakin luas mereka langsung menetapkannya menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dengan begitu membuka ruang untuk pemerintah provinsi maupun pusat agar terlibat melakukan penangnan baik dari sisi pendanaan, program, dan bentuk dukungan lainnya.
Namun ia menilai pola penanganan serangan hama belalang masih sama setiap tahun,"Kita seperti terantuk pada batu yang sama, ketika ada serangan hama baru pemerintah bergerak menyemperot pestisida, instansi terkait mulai menyalurkan bantuan logistik dan sebagainya," katanya.
Untuk itu, menurutnya, cara penanganan seharusnya berorientasi jangkah panjang melalui sebuah riset ilmiah yang serius dan terfokus untuk menemukan cara pembasmian yang tetap sehingga tidak muncul kembali.
Ia mengatakan, meskipun sebelumnya telah diadakan riset kecil dari perguruan tinggi maupun ahli namun persoalan yang sama tetap muncul dengan cara penanganan yang sama pula.
"Sehingga Litbang harus bisa bikin riset khusus yang seius didukung dengan pendanaan yang serius untuk menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang bisa kita pakai untuk penangnan jangka panjang hingga puluhan tahun ke depan," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
