Gereja-Masjid diminta doakan kasus Montara

id FT

Gereja-Masjid diminta doakan kasus Montara

Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni (tengah) sedang menjelaskan petaka tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledaknya kilang minyak Montara pada 21 Agustus 2009 kepada para jemaat GMIT di Kupang. (ANTARA Foto/Laurensius Molan)

Gereja dan masjid diminta untuk berdoa mengakhiri penderitaan rakyat NTT yang menjadi korban pencemaran akibat meledaknya anjungan minyak Montara di Laut Timor pada 2009.
Kupang (AntaraNews NTT) - Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni meminta gereja dan masjid untuk berdoa mengakhiri penderitaan rakyat Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban pencemaran akibat meledaknya anjungan minyak Montara di Laut Timor pada 2009.

"Para pemimpin agama di Nusa Tenggara Timur dan Australia diminta berdoa untuk mengakhiri penderitaan yang dialami lebih dari 100.000 masyarakat pesisir NTT yang telah kehilangan mata pencaharian sebagai petani rumput laut dan nelayan," katanya di Kupang, Sabtu (24/3).

Tanoni menyampaikan hal tersebut setelah mengirim surat kepada Ketua Sinode GMIT, Presiden Uniting Church Australia, GKS (Gereja Kristen Sumba), Uskup Agung Kupang, Uskup Weetabula, Uskup Atambua, Uskup Larantuka dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) NTT.

Surat bernada seruan itu ditembuskan pula kepada Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), Ketua MUI Pusat dan Presiden Australian Council of Churches.

Dalam surat tersebut, Tanoni menyampaikan bahwa secara manusia dirinya telah berupaya maksimal sampai pada titik yang tertinggi sehingga meminta gereja dan masjid untuk mendukungnya dalam doa.

"Masalah ini telah sampai di meja Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri Australia, dan mengajukan gugatan terhadap pencemar Laut Timor yang perkaranya sedang berlangsung di Pengadilan Federal Australia di Kota Sydney," ujarnya.

Baca juga: Feature - Mengharapkan kerja nyata Montara Task Force
Baca juga: MUI harapkan Jokowi bahas Montara dengan Australia
Meledaknya anjungan minyak Montara di Laut Timor pada 21 Agustus 2009 (ANTARA Foto/dok)
Ia mengatakan upaya maksimal yang telah dilakukannya itu belum membuahkan sebuah keadilan bagi rakyat korban, sehingga lewat perantaraan doa dari gereja dan masjid, semua rintangan yang membentang diyakini dapat teratasi.

Mantan agen imigrasi Australia itu hanya meminta para pemimpin gereja dan masjid dapat berkenan membawakan "Suara kebenaran dari perjuangan yang maha berat" ini ke dalam doa melalui mimbar-mimbar gereja dan masjid hingga mendapatkan sebuah keadilan bagi rakyat NTT yang sudah sembilan tahun lamanya menderita itu.

Tanoni yang juga adalah pemegang mandat hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ini mengatakan sangatlah wajar jika dirinya mengirimkan surat tersebut kepada para pemimpin gereja dan masjid di NTT maupun di Australia.

"Saya bersurat memohon dukungan doa, karena para pemimpin agama di NTT dan Australia selama ini memberikan dukungan terhadap perjuangannya," ujarnya.

Ia menambahkan "Kita rakyat Indonesia menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi bukan menyembah kepada manusia. Saya yakin bahwa apa yang saya lakukan ini sudah benar dan tepat sasaran".

?Saya berkeyakinan penuh bahwa kebenaran pasti akan menang, kebenaran mungkin bisa dicurangi akan tetapi tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun, karena kebenaran adalah tetap kebenaran dan kecurangan adalah tetap kecurangan meski dibenarkan," demikian Ferdi Tanoni.

Baca juga: Meneropong kelanjutan penyelesaian kasus Montara
Baca juga: Australia harapkan kasus montara segera berakhir
Presiden Jokowi (kanan) bersalaman dengan PM Australia Malcom Turnbull (ANTARA Foto/Setpres)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar