Analis: Konflik Demokrat NTT sejarah yang harus dilalui

id demokrat ntt,mik bataona,ntt,konflik demokrat

Analis: Konflik Demokrat NTT sejarah yang harus dilalui

Analis politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Mikhael Rajamuda Bataona (ANTARA/Bernadus Tokan)

Karena fungsi politik itu kan mempertemukan berbagai kepentingan, perbedaan ide dan gagasan. Sehingga dalam kebuntuan ini komunikasi politik menjadi vital sebagai solusi,"
Kota Kupang (ANTARA) - Analis politik dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Rajamuda Bataona menilai, konflik Partai Demokrat NTT merupakan bagian dari sejarah yang harus dilalui partai berlambang Mercy itu untuk mengalami transformasi dan perubahan.

"Jadi konflik Demokrat  NTT ini bagian sejarah yang harus dilalui partai Demokrat NTT untuk mengalami transformasi dan perubahan. Apabila para elit Demokrat bisa menajemen konflik ini pascapelantikan pengurus DPD Demokrat NTT, maka partai ini akan bergerak ke arah yang lebih optimistik dan dinamis," kata Mikhael Rajamuda Bataona kepada ANTARA di Kupang, Jumat (11/3).

Pengajar Investigatif News dan Jurnalisme Konflik pada Fisip Unwira Kupang mengemukakan pandangan itu berkaitan dengan konflik di internal Partai Demokrat NTT pascaMusda partai itu beberapa waktu 
lalu.

Namun menurut dia, apabila para elit gagal mengkreasikan konflik ini sebagai potensi besar untuk membuat partai ini lebih kuat, konsolidatif dan berenergi, maka partai ini akan larut dalam perpecahan berkepanjangan sampai tahun 2024 nanti.

"Di mana resikonya adalah suara partai ini akan menurun sehingga para elit yang bertarung hanya mempunyai dua pilihan itu yakni mencari jalan keluar atau membiarkannya," katanya. 

Tetapi menurut dia, harus selalu ada terobosan berpikir bahwa konflik itu bukan kiamat. Sebagaimana dalam perspektif perubahan sosial, konflik itu justru dibutuhkan untuk kemajuan dan perubahan. 

"Dalam hal ini Demokrat NTT sedang mengalaminya. Jadi ini bukan sesuatu yang tabuh dan haram. Justru konflik semacam ini sebuah dinamika sosial yang lumrah," katanya. 

Apalagi dalam partai politik manapun pasti ada faksi-faksi dan kubu-kubu yang saling bertarung. 

Kata kuncinya adalah bagaimana para elit partai mengelola konflik tersebut secara strategis demi membesarkan partai. Jangan malah masuk ke dalam jebakan konflik tersebut dan berkubang di dalamnya sampai mengorbankan soliditas partai dan menurunkan moral kader, katanya. 

Dalam kasus Demokrat, Leo Lelo sebagai Ketua dan mantan Ketua DPD Partai Demokrat NTT Jefri Riwu Kore (Jeriko) bisa dimediasi oleh seorang tokoh yang mungkin lebih netral posisinya juga lebih senior dalam partai atau dari luar partai agar ada jalan keluar. 

"Karena fungsi politik itu kan mempertemukan berbagai kepentingan, perbedaan ide dan gagasan. Sehingga dalam kebuntuan ini komunikasi politik menjadi vital sebagai solusi," katanya. 

Tetapi apabila hal ini tidak dilakukan maka kembali lagi kepada elit partai ini yaitu para pengurus yang baru untuk memaksimalkan konflik dan perlawanan kelompok Jeriko ini untuk menjadi potensi yang mampu mengkonsolidasi kader partai ini di NTT. 

Karena konflik itu dalam sejarahnya selalu menjadi potensi yang bisa memberi dua dampak yakni pertama adalah kehancuran, tapi juga kemajuan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Jika konflik Demokrat ini dimanajemen secara cerdas dan kritis oleh pengurus demokrat yang baru dilantik tadi, maka efeknya ke partai pun bisa menguntungkan. 

Misalnya ketika para kader Demokrat NTT melihat bahwa saat ini mereka sama-sama sedang mendapat ujian atau tantangan, maka jiwa korsa dan militansi mereka  dalam berjuang demi membesarkan partai bisa meningkat. Karena konflik itu sebuah energi. 

Baca juga: 248 personel polisi diterjunkan amankan pelantikan Ketua DPD Demokrat NTT

Sebuah medium yang bisa secara kreatif dimanfaatkan sebagai perekat dan memompa spirit perjuangan dalam sebuah kelompok seperti partai politik. 

"Jadi saya melihat bahwa konflik ini bukan sesuatu yang luar biasa. Ini wajar dan normal dalam dinamika berpartai. Tinggal saja para elit berkomunikasi. Jika tidak bisa dimediasi, ya konflik ini tinggal saja dikreasikan sebagai energi pendorong yang potensial dan berguna bagi perubahan dan konsolidasi partai demokrat NTT," katanya.

Karena bagaimanapun juga mesin partai ini harus terus berjalan. Tidak bisa berhenti hanya karena konflik ini. Sebab taruhannya terlalu mahal untuk masa depan Demokrat NTT.

Dua simbolik

Pengajar Ilmu Komunikasi Politik dan Teori Kritis pada Fakultas Ilmu Sosial Politik Unwira itu menambahkan, kisruh partai Demokrat NTT ini sedang menyuguhkan dua hal simbolik di sana.

"Saya kira kisruh partai Demokrat NTT ini sedang menyuguhkan dua hal simbolik di sana. Pertama adalah masyarakat disuguhkan  tontonan tentang konflik para elit politik," katanya. 

Baca juga: Satgas COVID-19 sebut pelantikan Ketua DPD Demokrat NTT tidak berizin

Para elit ini tidak atau belum menemukan solusi yang bisa mengakomodir kepentingan mereka. 

Kedua, masyarakat juga disuguhkan tentang kemampuan, kapabilitas dan rasionalitas para elit Demokrat mempraktekkan menajemen konflik dalam situasi ini. 

"Saya justru membaca bahwa Konflik partai demokrat NTT ini justru akan berdampak positip bagi partai ini. Karena dalam cara pandang Marxisme, misalnya, konflik itu sangat potensial untuk menggerakkan perubahan dan transformasi sebuah masyarakat, lembaga, institusi dan kelompok. 

Jadi konflik Demokrat  NTT ini bagian sejarah yang harus dilalui partai Demokrat NTT untuk mengalami transformasi dan perubahan. Apabila para elit Demokrat bisa manajemen konflik ini pasca pelantikan pengurus DPD Demokrat NTT, maka partai ini akan bergerak ke arah yang lebih optimistik dan dinamis, katanya menambahkan.