SDN Bertingkat Naikoten Kota Kupang mulai menerapkan kurikulum merdeka
Kamis, 10 November 2022 10:25 WIB
Kepala Sekolah Dasar Negeri Bertingkat Naikoten Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Marthina Amaral (ANTARA/Antonita Priska Rengi.)
Kupang (ANTARA) - Sekolah Dasar Negeri Bertingkat Naikoten Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur mulai menerapkan kurikulum merdeka guna meningkatkan kualitas belajar para siswa.
"Untuk kami SD Negeri Bertingkat Naikoten sebelum adanya kurikulum merdeka belajar itu kami merupakan sekolah penggerak, untuk sekolah penggerak salah satu programnya adalah melaksanakan kurikulum merdeka," kata Kepala Sekolah Dasar Negeri Bertingkat Naikoten Kota Kupang Marthina Amaral di Kupang, Kamis, (10/11/2022).
Ia mengatakan dalam kurikulum Merdeka ada Merdeka Belajar sehingga untuk para siswa mulai kelas I-VI tidak semuanya menggunakan kurikulum merdeka.
Pada tahun pertama ini kata dia yang menggunakan kurikulum merdeka di SDN Bertingkat Naikoten hanya dilakukan pada kelas I dan IV sedangkan kelas II, III , V dan VI masih menggunakan kurikulum 2013.
Dia mengatakan dalam kegiatan ekstrakulikuler semua dilaksanakan dengan mengacu pada kurikulum merdeka belajar.
"Jadi semua yang dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler sudah mengarah pada kurikulum Merdeka walaupun dalam pelaksanaan pembelajarannya ada yang menggunakan kurikulum 2013 ada juga yang menggunakan kurikulum merdeka," kata Marthina Amaral.
Menurut dia penerapan kurikulum merdeka merupakan hal baru sehingga ada banyak kendala yang ditemui namun melalui upaya kerja keras dilakukan para guru sehingga berbagai kendala itu dapat diatasi secara baik.
"Program merdeka merupakan program baru sehingga kamu harus melakukan sosialisasi kepada siswa dan orang tua agar bisa dipahami," kata
Marthina Amaral.
Ia mengatakan pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada para orang tua siswa terkait penerapan program kurikulum merdeka bahwa para siswa sudah merdeka belajar jadi tidak seperti dulu bahwa guru lebih banyak mengajar dan siswa mendengarkan.
"Dalam kurikulum merdeka guru merupakan fasilitator jadi guru memfasilitasi segala proses tetapi pelaksanaannya itu siswa yang melakukan sehingga anak tidak hanya dituntut untuk bisa pengetahuannya saja yang dinilai tetapi sikap dan keterampilan," tegas Marthina Amaral.
Baca juga: Guru milenial di Kabupaten Kupang siap dukung program merdeka belajar
Baca juga: Dirjen Dikti ajak mahasiswa di daerah 3T ikut program Kampus Merdeka
"Untuk kami SD Negeri Bertingkat Naikoten sebelum adanya kurikulum merdeka belajar itu kami merupakan sekolah penggerak, untuk sekolah penggerak salah satu programnya adalah melaksanakan kurikulum merdeka," kata Kepala Sekolah Dasar Negeri Bertingkat Naikoten Kota Kupang Marthina Amaral di Kupang, Kamis, (10/11/2022).
Ia mengatakan dalam kurikulum Merdeka ada Merdeka Belajar sehingga untuk para siswa mulai kelas I-VI tidak semuanya menggunakan kurikulum merdeka.
Pada tahun pertama ini kata dia yang menggunakan kurikulum merdeka di SDN Bertingkat Naikoten hanya dilakukan pada kelas I dan IV sedangkan kelas II, III , V dan VI masih menggunakan kurikulum 2013.
Dia mengatakan dalam kegiatan ekstrakulikuler semua dilaksanakan dengan mengacu pada kurikulum merdeka belajar.
"Jadi semua yang dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler sudah mengarah pada kurikulum Merdeka walaupun dalam pelaksanaan pembelajarannya ada yang menggunakan kurikulum 2013 ada juga yang menggunakan kurikulum merdeka," kata Marthina Amaral.
Menurut dia penerapan kurikulum merdeka merupakan hal baru sehingga ada banyak kendala yang ditemui namun melalui upaya kerja keras dilakukan para guru sehingga berbagai kendala itu dapat diatasi secara baik.
"Program merdeka merupakan program baru sehingga kamu harus melakukan sosialisasi kepada siswa dan orang tua agar bisa dipahami," kata
Marthina Amaral.
Ia mengatakan pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada para orang tua siswa terkait penerapan program kurikulum merdeka bahwa para siswa sudah merdeka belajar jadi tidak seperti dulu bahwa guru lebih banyak mengajar dan siswa mendengarkan.
"Dalam kurikulum merdeka guru merupakan fasilitator jadi guru memfasilitasi segala proses tetapi pelaksanaannya itu siswa yang melakukan sehingga anak tidak hanya dituntut untuk bisa pengetahuannya saja yang dinilai tetapi sikap dan keterampilan," tegas Marthina Amaral.
Baca juga: Guru milenial di Kabupaten Kupang siap dukung program merdeka belajar
Baca juga: Dirjen Dikti ajak mahasiswa di daerah 3T ikut program Kampus Merdeka
Pewarta : Antonita Priska Rengi
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kepala BGN: 93 persen dari Rp268 triliun anggaran MBG untuk peningkatan kualitas gizi
31 March 2026 15:11 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Undana menjadi wakil tunggal Indonesia Ikuti diklat panas bumi di Selandia Baru
17 April 2026 18:51 WIB
Gubernur NTT: Pentingnya peran keluarga dalam menjaga masa depan generasi muda
16 April 2026 14:23 WIB