Labuan Bajo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mengimbau peternak dan penjaga kandang untuk meningkatkan penerapan biosekuriti sebagai bentuk kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit African Swine Fever (ASF) pada ternak babi di wilayah tersebut.

"Sudah dua minggu para petugas kesehatan hewan melakukan edukasi dari kandang ke kandang. Laporan kami terima sudah ada tiga ekor ternak babi terkonfirmasi positif ASF dari tujuh ekor sampel yang diperiksa pada 16 ternak yang mati," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Jemi Satriawan Sadipun ketika dihubungi dari Labuan Bajo, Selasa, (24/1/2923).

Mencermati hasil positif ASF dari uji laboratorium di Balai Besar Veteriner Denpasar tersebut, Pemkab Sikka mengambil tindakan pencegahan dini agar tidak terjadi kematian ternak babi secara massal.

Dia mengatakan peningkatan kewaspadaan ini dilakukan agar kasus ASF tidak menyebar dan berdampak terhadap produksi, konsumsi daging, dan pendapatan petani peternak di wilayah itu.

Melalui surat imbauan Bupati Sikka, pemerintah daerah menegaskan para camat agar meneruskan informasi penerapan biosekuriti pada aktivitas ternak, yakni membersihkan kandang dan peralatan kandang secara rutin menggunakan cairan disinfektan.

Hal serupa juga dilakukan pada kendaraan yang mengangkut ternak, baik sebelum atau sesudah pengangkutan.

Masyarakat diminta untuk memasak pakan ternak babi yang berasal dari makanan sisa maupun dari produk pertanian lain seperti dedak, rumput, ubi, kayu, dan kulit pisang sampai mendidih selama 30 menit.

Selanjutnya limbah daging babi atau air cuciannya dibuang di lubang yang disediakan khusus dan tidak diberikan pada babi atau dibuang sembarang ke lingkungan.

Bangkai babi juga wajib dikubur dan tidak boleh dibuang sembarangan ke sawah, kebun, hutan, jalanan, tempat sampah, dan laut yang berpotensi meningkatkan populasi lalat dan penyebaran oleh hewan pemakan bangkai lainnya.

"Masyarakat tidak boleh memperjualbelikan ternak yang sakit dan tidak mengedarkan daging babi dari ternak yang sakit itu," kata Jemi menegaskan.

Para kepala desa dan lurah, katanya diminta segera mendata populasi ternak babi dan menyerahkan data tersebut ke Dinas Pertanian Kabupaten Sikka paling lambat 15 Februari 2023.

Selain itu mereka harus mengawasi aktivitas keluar dan masuk hewan dan produk hewan khususnya babi dari dan ke wilayah masing-masing.

Koordinasi antara petugas kesehatan hewan bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa perlu ditingkatkan sebagai bentuk pengawasan terhadap lalu lintas ternak.

Terkait kasus ASF yang terjadi di Kabupaten Sikka, Jemi menyebut telah mengikuti rapat koordinasi dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Denpasar yang memberikan bantuan ternak babi pada dua kelompok masyarakat di kabupaten tersebut. Dia menyebut kasus ASF terjadi pada ternak babi yang merupakan bantuan tersebut.

Total ternak babi bantuan untuk Kabupaten Sikka berjumlah 50 ekor dengan rincian Poktan Sahabat Tani Desa Egon Kecamatan Waigete sebanyak 25 ekor dan Poktan Kasih Ibu Kelurahan Nangameting Kecamatan Alok Timur sebanyak 25 ekor. kasus ASF terjadi pada ternak babi di Poktan Kasih Ibu Kelurahan Nangameting, Alok.

"Kami sudah rapat koordinasi dengan BPTU Denpasar dan perwakilan peternak yang dapat bantuan. Selain itu upaya dinas ya terus beri sosialisasi bagaimana peternak melakukan biosecurity," katanya menandaskan.


Baca juga: Karantina Kupang sebut babi yang mati di Flotim bukan dari Bali
Baca juga: Pemkab Flotim perkuat pengawasan pintu masuk cegah ASF

Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024