BPBD NTT dorong peningkatan mitigasi karhutla di Pulau Sumba
Minggu, 28 Mei 2023 4:00 WIB
Ilustrasi - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ile Mandiri, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT. ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi
Kupang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur mendorong upaya peningkatan mitigasi kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba.
"Dari catatan kami, selama periode Januari-Maret 2023, luas lahan terdampak karhutla di NTT yang mencapai 99,06 hektare, lebih banyak di Sumba Timur mencapai 44,68 hektare, sehingga langkah mitigasi perlu ditingkatkan di sana," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT Ambrosius Kodo ketika dihubungi di Kupang, Sabtu, (27/5/2023).
Ia menyebutkan wilayah lain yang juga mengalami kahutla pada periode yang sama yaitu Kabupaten Manggarai Barat 20,32 ha, Timor Tengah Utara 17,25 ha, Flores Timur 12,52 ha, dan Alor 4,28 ha.
Ambrosius mengatakan, wilayah Sumba Timur lebih banyak terdampak karhutla sehingga upaya mitigasi perlu ditingkatkan terutama melalui edukasi untuk membangun kesadaran warga setempat.
"Teman-teman pemerintah daerah di Sumba Timur perlu memberikan perhatian supaya petani kita jangan mudah membakar lahan," katanya.
Lebih lanjut, Ambrosius mengatakan musim kemarau di NTT pada 2023 ini diperkirakan akan lebih kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dengan demikian, kata dia, potensi karhutla juga semakin tinggi dan api bisa dengan cepat meluas dengan dukungan angin kencang yang bersifat kering.
Ia mengimbau warga agar meminimalisir tindakan membuka lahan dengan cara membakar. Jika memang harus membakar lahan untuk berkebun, kata dia, maka perlu dipastikan lahan dengan baik agar api tidak merambat secara luas.
Selain itu, ia melanjutkan, warga juga perlu menghindari tindakan membuang puntung rokok di area terbuka yang terdapat tumpukan daun atau rumput kering yang mudah tersambar api.
"Tindakan-tindakan pencegahan ini yang perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka lah semestinya berperan aktif mencegah karhutla," katanya.
Baca juga: Semua daerah di NTT sangat mudah terjadi karhutla
Baca juga: 99 hektare lahan di NTT terbakar selama Januari hingga Maret 2023
"Dari catatan kami, selama periode Januari-Maret 2023, luas lahan terdampak karhutla di NTT yang mencapai 99,06 hektare, lebih banyak di Sumba Timur mencapai 44,68 hektare, sehingga langkah mitigasi perlu ditingkatkan di sana," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT Ambrosius Kodo ketika dihubungi di Kupang, Sabtu, (27/5/2023).
Ia menyebutkan wilayah lain yang juga mengalami kahutla pada periode yang sama yaitu Kabupaten Manggarai Barat 20,32 ha, Timor Tengah Utara 17,25 ha, Flores Timur 12,52 ha, dan Alor 4,28 ha.
Ambrosius mengatakan, wilayah Sumba Timur lebih banyak terdampak karhutla sehingga upaya mitigasi perlu ditingkatkan terutama melalui edukasi untuk membangun kesadaran warga setempat.
"Teman-teman pemerintah daerah di Sumba Timur perlu memberikan perhatian supaya petani kita jangan mudah membakar lahan," katanya.
Lebih lanjut, Ambrosius mengatakan musim kemarau di NTT pada 2023 ini diperkirakan akan lebih kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dengan demikian, kata dia, potensi karhutla juga semakin tinggi dan api bisa dengan cepat meluas dengan dukungan angin kencang yang bersifat kering.
Ia mengimbau warga agar meminimalisir tindakan membuka lahan dengan cara membakar. Jika memang harus membakar lahan untuk berkebun, kata dia, maka perlu dipastikan lahan dengan baik agar api tidak merambat secara luas.
Selain itu, ia melanjutkan, warga juga perlu menghindari tindakan membuang puntung rokok di area terbuka yang terdapat tumpukan daun atau rumput kering yang mudah tersambar api.
"Tindakan-tindakan pencegahan ini yang perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka lah semestinya berperan aktif mencegah karhutla," katanya.
Baca juga: Semua daerah di NTT sangat mudah terjadi karhutla
Baca juga: 99 hektare lahan di NTT terbakar selama Januari hingga Maret 2023
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah di NTT terkendala cuaca mendung berawan
19 March 2026 20:31 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah di NTT terkendala cuaca mendung berawan
19 March 2026 20:31 WIB
Undana siap jadi mitra strategis Polri guna mewujudkan Smart Policing di NTT
16 March 2026 16:19 WIB
BMKG: Waspadai gelombang setinggi 2,5 meter di perairan NTT pada 16-19 Maret 2026
16 March 2026 10:15 WIB
Wagub NTT: Atraksi Pasola Gaura di Sumba Barat mampu mendongkrak ekonomi daerah
15 March 2026 17:07 WIB