Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi itu turun sebesar 0,34 persen, dari 101,46 pada Desember 2025 menjadi 101,11 pada Januari 2026.
“Penurunan NTP Januari 2026 dipengaruhi oleh subsektor tanaman pangan yang turun sebesar 0,11 persen, yang utamanya disebabkan oleh penurunan harga gabah dan jagung,” kata Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi NTT Putu Dita Pickupana di Kupang, Senin.
Ia mengatakan penurunan tersebut juga dipengaruhi oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 1,67 persen, dengan penyumbang penurunan terbesar berasal dari komoditas biji jambu mete dan kakao.
Selain itu, subsektor peternakan juga mengalami penurunan sebesar 0,08 persen, dengan andil terbesar disumbang oleh ayam ras pedaging.
Adapun subsektor yang mengalami kenaikan antara lain subsektor hortikultura yang meningkat sebesar 1,48 persen, dengan komoditas penyumbang kenaikan utama berupa labu siam dan sawi hijau.
Di samping itu, subsektor perikanan juga mengalami peningkatan sebesar 0,48 persen, dengan andil terbesar berasal dari komoditas ikan kembung, ikan selar, dan ikan cakalang.
Lebih lanjut, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) NTT pada Januari 2026 tercatat sebesar 105,3 atau meningkat 0,20 persen dibandingkan Desember 2025. Satu-satunya subsektor yang mengalami penurunan NTUP pada Januari 2026 adalah subsektor perkebunan rakyat.
“Kenaikan NTUP ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi usaha pertanian pada Januari 2026, terutama pada subsektor perikanan yang mencatat kenaikan tertinggi hingga 2,05 persen dibandingkan Desember 2025,” katanya.
Sementara itu, Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani perdesaan pada Januari 2026 tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,59 persen. Komoditas yang memberikan andil cukup signifikan terhadap kenaikan IKRT antara lain bawang merah, tomat, beras, ikan tembang, bawang putih, dan cabai rawit.
“Secara tahunan (year-on-year), perkembangan IKRT Januari 2026 terhadap Januari 2025 tercatat sebesar 2,74 persen” ujarnya.