Debit air mulai menipis
Senin, 2 September 2019 17:02 WIB
Pemandangan embung Kiubiblian yang sudah mulai menyusut debit airnya di Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT, Sabtu (2/9/2019). (ANTARA/Kornelis Kaha).
Kupang (ANTARA) - Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II melaporkan bahwa sebanyak 18 embung di Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, saat ini airnya semakin menipis akibat kekeringan ekstrim yang melanda daerah itu.
Kasatker Operasi Pemeliharaan Bendungan Tilong, Balai Sungai Nusa Tenggara II Bernadeta Tea di Kupang, Senin (2/9), mengatakan salah satu embung yang terus mengalami penurunan debit air adalah embung Kiumese.
"Saat ini sisa air di embung itu hanya tersisa 35 meter kubik saja, dari total daya tampung 18.840 meter kubik," katanya.
Pantauan ANTARA menunjukkan bahwa air di embung tersebut juga sudah berubah warna karena sudah tak layak lagi dikonsumsi akibat sehari-hari menjadi lokasi kubangan ternak sapi.
Ia mengatakan saat ini di Kecamatan Alak ada 18 embung, namun semuanya mengalamai penurunan debit air hingga mencapai 80 persen. Bahkan ada beberapa embung di antaranya seperti Embung Kiubiblian, Bisita, Pohon Nitas dan Hoenebab malah hampir mengering.
Baca juga: Debit air Bendungan Tilong menyusut, 200 embung kering
Baca juga: Sisa air embung untuk tanaman di Kota Kupang
Beberapa warga yang ditemui ANTARA saat meninjau salah satu bendungan bernama Nunusak di Kecamatan Alak mengatakan bahwa memang debit air semakin turun.
Louise Kufa seorang petani sayur-sayuran mengatakan ketinggian air di Embung Nunusak yang semula delapan meter kini tinggal empat meter saja.
Menurut dia, penurunan debit air tahun ini sangat cepat dibandingkan dengan tahun 2018. Ia pun mengkhawatirkan jika kemarau semakin panjang maka air di embung itu akan mengering. Seorang warga sedang mengambil air di embung yang sudah mulai menyusut airnya di Kecamatan Alak Kota Kupang, NTT, Sabtu (2/9/2019). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama)
Kasatker Operasi Pemeliharaan Bendungan Tilong, Balai Sungai Nusa Tenggara II Bernadeta Tea di Kupang, Senin (2/9), mengatakan salah satu embung yang terus mengalami penurunan debit air adalah embung Kiumese.
"Saat ini sisa air di embung itu hanya tersisa 35 meter kubik saja, dari total daya tampung 18.840 meter kubik," katanya.
Pantauan ANTARA menunjukkan bahwa air di embung tersebut juga sudah berubah warna karena sudah tak layak lagi dikonsumsi akibat sehari-hari menjadi lokasi kubangan ternak sapi.
Ia mengatakan saat ini di Kecamatan Alak ada 18 embung, namun semuanya mengalamai penurunan debit air hingga mencapai 80 persen. Bahkan ada beberapa embung di antaranya seperti Embung Kiubiblian, Bisita, Pohon Nitas dan Hoenebab malah hampir mengering.
Baca juga: Debit air Bendungan Tilong menyusut, 200 embung kering
Baca juga: Sisa air embung untuk tanaman di Kota Kupang
Beberapa warga yang ditemui ANTARA saat meninjau salah satu bendungan bernama Nunusak di Kecamatan Alak mengatakan bahwa memang debit air semakin turun.
Louise Kufa seorang petani sayur-sayuran mengatakan ketinggian air di Embung Nunusak yang semula delapan meter kini tinggal empat meter saja.
Menurut dia, penurunan debit air tahun ini sangat cepat dibandingkan dengan tahun 2018. Ia pun mengkhawatirkan jika kemarau semakin panjang maka air di embung itu akan mengering. Seorang warga sedang mengambil air di embung yang sudah mulai menyusut airnya di Kecamatan Alak Kota Kupang, NTT, Sabtu (2/9/2019). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/ama)
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerintah akan membangun bendungan dan embung di Sumba Tengah pada 2023
21 March 2022 11:26 WIB, 2022
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB