Kupang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya terus memfokuskan perhatian dalam penanganan 5.291 anak yang menderita kekerdilan guna meningkatkan sumber daya manusia di salah satu daerah di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

“Upaya penanganan masalah gizi buruk dan 'stunting' (kekerdilan) menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya karena jumlah kasus yang masih cukup tinggi,” kata Bupati Sumba Barat Daya Kornelis Kodi Mete dalam keterangan yang diterima di Kupang, Sabtu, (10/10).

Ia menjelaskan jumlah anak bawah lima tahun (balita) di Sumba Barat Daya yang mengalami kekurangan gizi sebanyak 1.122 orang yang terdiri atas 491 penderita gizi buruk dan 5.291 penderita kekerdilan.

Oleh karen itu, pemkab setempat berupaya secara intensif melakukan sejumlah langkah strategis, seperti sosialisasi 1.000 hari pertama kehidupan bagi lintas sektor.

Selain itu, pendampingan pola makan, pelatihan penanganan gizi buruk terintegrasi, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta penyuluhan di posyandu, tempat umum, dan tempat ibadah.

“Kami juga menempatkan lima sarana pelopor kesehatan di setiap desa untuk upaya menggempur 'stunting' mulai dari desa-desa,” kata mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT itu.

Baca juga: Tak ada korban kebakaran kampung adat di Sumba Barat Daya

Baca juga: Pemasangan listrik di Sumba Barat Daya menggunakan dana desa

Kodi Mete optimistis dengan sejumlah langkah strategis yang dilakukan ini, ke depan dapat menurunkan angka gizi buruk dan kekerdilan secara signifikan di daerah itu.

“Aspek kesehatan merupakan salah satu arah kebijakan pembangunan di pemerintahan kami melalui program desa sehat karena itu tetap menjadi fokus penanganan ke depan,” katanya.


Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024