BMKG: Waspadai puting beliung selama musim pancaroba
Senin, 12 Maret 2018 6:45 WIB
Sejumlah papan reklame di Kota Kupang, NTT bertumbangan akibat dihantam puting beliung. (ANTARA Foto/Kornelis Kaha)
Kupang (AntaraNews NTT) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari Kupang mengingatkan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewaspadai angin puting beliung selama musim pancaroba.
"Masyarakat juga dihimbau untuk lebih menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh karena frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti flu atau batuk relatif meningkat selama pancaroba," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Senin.
Pancaroba adalah masa peralihan atau masa transisi antara dua musim, yaitu peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya dari musim kemarau ke musim penghujan.
Pada awal bulan Maret, wilayah Nusa Tenggara Timur sudah memasuki musim pancaroba atau masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau.
Karakteristik musim pancaroba udara terasa panas atau gerah, arah angin tidak beraturan, hujan yang turun relatif terjadi dalam waktu singkat disertai petir dan angin kencang.
Durasi hujan antara 15 - 30 menit. Sifat hujan selama pancaroba tidak merata atau sifatnya lokal. Potensi hujan terjadi pada siang atau sore hari menjelang malam, akibat pergeseran dari musim hujan menuju kemarau.
Menurut dia, potensi puting beliung sering terjadi pada saat musim peralihan ini akibat adanya arus konveksi yang menyebabkan pertumbuhan awan-awan konvektif atau awan hujan seperti cumulus maupun awan cumulonimbus yang biasa disebut juga awan CB.
Pada fase dewasa dari awan CB, ada arus yang sangat kuat ke bawah biasa disebut downdraft.
Arus dari awan CB inilah yang berpotensi menjadi angin kencang sesaat durasinya berkisar 5-10 menit yang sifatnya merusak atau lebih dikenal sebagai puting beliung, katanya.
Namun tidak semua awan CB berpotensi menyebabkan puting beliung, tergantung dari besarnya energi kinetik atau angin yang keluar dari awan CB tersebut, katanya menjelaskan.
Indikasi akan terjadinya angin puting beliung yaitu beberapa hari sebelumnya ditandai dengan kondisi saat pagi dan malam hari terasa panas, gerah dan pengap.
Kemudian muncul awan hitam dan gelap yang dapat berlangsung hingga sore hari. Lintasan kejadian puting beliung bergantung pada pergerakan awan CB yang menghasilkannya.
Karena itu masyarakat agar mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga deras dengan durasi singkat disertai petir.
Untuk meminimalisir dampak puting beliung, masyarakat dihimbau untuk lebih memperhatikan konstruksi tempat tinggal karena puting beliung adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari, katanya menambahkan.
"Masyarakat juga dihimbau untuk lebih menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh karena frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti flu atau batuk relatif meningkat selama pancaroba," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Senin.
Pancaroba adalah masa peralihan atau masa transisi antara dua musim, yaitu peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya dari musim kemarau ke musim penghujan.
Pada awal bulan Maret, wilayah Nusa Tenggara Timur sudah memasuki musim pancaroba atau masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau.
Karakteristik musim pancaroba udara terasa panas atau gerah, arah angin tidak beraturan, hujan yang turun relatif terjadi dalam waktu singkat disertai petir dan angin kencang.
Durasi hujan antara 15 - 30 menit. Sifat hujan selama pancaroba tidak merata atau sifatnya lokal. Potensi hujan terjadi pada siang atau sore hari menjelang malam, akibat pergeseran dari musim hujan menuju kemarau.
Menurut dia, potensi puting beliung sering terjadi pada saat musim peralihan ini akibat adanya arus konveksi yang menyebabkan pertumbuhan awan-awan konvektif atau awan hujan seperti cumulus maupun awan cumulonimbus yang biasa disebut juga awan CB.
Pada fase dewasa dari awan CB, ada arus yang sangat kuat ke bawah biasa disebut downdraft.
Arus dari awan CB inilah yang berpotensi menjadi angin kencang sesaat durasinya berkisar 5-10 menit yang sifatnya merusak atau lebih dikenal sebagai puting beliung, katanya.
Namun tidak semua awan CB berpotensi menyebabkan puting beliung, tergantung dari besarnya energi kinetik atau angin yang keluar dari awan CB tersebut, katanya menjelaskan.
Indikasi akan terjadinya angin puting beliung yaitu beberapa hari sebelumnya ditandai dengan kondisi saat pagi dan malam hari terasa panas, gerah dan pengap.
Kemudian muncul awan hitam dan gelap yang dapat berlangsung hingga sore hari. Lintasan kejadian puting beliung bergantung pada pergerakan awan CB yang menghasilkannya.
Karena itu masyarakat agar mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga deras dengan durasi singkat disertai petir.
Untuk meminimalisir dampak puting beliung, masyarakat dihimbau untuk lebih memperhatikan konstruksi tempat tinggal karena puting beliung adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari, katanya menambahkan.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG mengingatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di NTT hingga 4 Februari 2026
02 February 2026 12:45 WIB
BMKG mengimbau nelayan-pelaku wisata Labuan Bajo waspada awan Cumulonimbus
10 November 2025 17:39 WIB
BMKG imbau nelayan dan pelaku wisata waspada angin kencang di Labuan Bajo
03 September 2025 12:53 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Kemenag mempercepat implementasi wajib halal di Kabupaten Sumba Timur NTT
11 February 2026 13:59 WIB
Undana dan GMIT kolaborasi perkuat ketahanan pangan dan pendidikan di NTT
09 February 2026 19:20 WIB