Cerita ibu Siti, sukarelawan pemulasaraan jenazah tanpa bayaran

id pemulasaran jenazah, kartini, Rumah Peduli Annisa,Siti Alifah,artikel perempuan Oleh Ni Putu Putri Muliantari

Cerita ibu Siti, sukarelawan pemulasaraan jenazah tanpa bayaran

Tokoh kartini sukarelawan pemulasaran jenazah bernama Siti Alifah saat diwawancara di Yayasan Rumah Peduli Annisa di Denpasar, Bali, Kamis (20/4/2023). ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari

...Wanita dengan tiga cucu yang berjuang bak Kartini ini menganggap dirinya bukan orang yang lemah, terbukti dari fakta bahwa ia bisa lolos dari lubang permasalahan dan saatnya menjadi contoh bagi perempuan lainnya

Wanita yang telah menjadi warga Bali sejak tahun 1994 itu akhirnya mulai menjadi relawan untuk menjaga pasien di Rumah Sakit Prof Ngoerah, saat itu yang ia rawat adalah seorang mualaf bernama Ketut Sri Rahayu.

Pasien pertama sekaligus jenazah pertama yang ia bantu kepulangannya itu sempat menggemparkan rumah sakit, di mana Siti tiba-tiba menjadi penjamin agar jenazah Ketut dapat dimakamkan selayaknya ajaran Islam.

Jenazah Ketut itu biaya keluar dari rumah sakitnya Rp409 juta, padahal keluarganya belum ada bisa membayar. Dia yang tanda tangan dan rumah sakit bilang terima kasih. Setelah itu dia tidak bisa tidur memikirkan hutang sebanyak itu dan KTP menjadi jaminan.

Dari sana, wanita berusia 56 tahun itu mulai belajar cara memandikan jenazah dan mulai dihubungi rumah sakit maupun keluarga pasien yang membutuhkan bantuannya.

Setahun berlalu, Siti melakukan kegiatan sukarela itu sendirian, bahkan kerap kali saat tak ada relawan dadakan ia harus memandikan jenazah seorang diri.

Beragam pengalaman yang ia rasakan pada prosesi itu, lantaran banyak jenazah tak terduga dan cukup berbahaya bagi kesehatannya sendiri, sehingga wajib baginya bertanya kepada pihak rumah sakit atau kepolisian mengenai kondisi mayat terlebih dulu.

Di awal kegiatannya membantu proses pemulasaraan jenazah Muslim itu, Siti menggunakan dana pribadi, seperti dengan menyisihkan uang kiriman putra pertamanya yang menjadi pekerja migran di Arab Saudi dan dari gajinya sebagai pegawai katering.


Membentuk yayasan