Pariwisata lesu akibat mahalnya tarif pesawat

id Abed

Ketua ASITA Nusa Tenggara Timur Abed Frans (ANTARA Foto/ist)

Sektor pariwisata di Nusa Tenggara Timur mengalami kelesuan akibat mahalnya tarif pesawat yang sampai mencekik leher.
Kupang (ANTARA News NTT) - Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur Abed Frans mengatakan sektor pariwisata di Nusa Tenggara Timur mengalami kelesuan akibat mahalnya tarif pesawat yang sampai mencekik leher.

"Dalam dua bulan terakhir ini pariwisata kita memang tampak lesu karena mahalnya tarif pesawat yang menimbulkan dampak yang luar biasa signifikan," katanya kepada Antara di Kupang, Senin (25/2).

Ia mengatakan hal itu menanggapi kondisi pariwisata yang tampak lesu atau sepi dari kunjungan wisatawan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak memasuki awal tahun 2019.

Salah satu daerah wisata unggulan yang merasakan kondisi ini yaitu Kabupaten Manggarai Barat di Pulau Flores, yang terkenal memiliki objek wisata unggulan Taman Nasional Komodo (TNK).

"Pariwisata kami dalam dua bulan ini (Januari-Februari 2019) memang sangat lesu sekali, wisatawan juga sepi berkunjung ke Labuan Bajo dan TNK," kata Wakil Bupati Manggarai Barat Maria Geong.

Menurut dia, kondisi lesunya pariwisata saat ini bahkan yang paling parah sepanjang sejarah pariwisata di wilayah barat Pulau Flores.

Baca juga: Penutupan Pulau Komodo tak merugikan pelaku wisata

Abed Frans mengatakan, tidak hanya di Manggarai Barat yang merasakan kondisi tersebut, namun hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami hal yang sama.

Menurutnya, kenaikan harga tiket pesawat dari berbagai maskapai di Tanah Air menjadi salah satu penyumbang terbesar lesunya sektor pariwisata yang mengakibatkan perjalanan wisata terganggu terutama wisatawan domestik.

"Yang masih cukup ramai hanyalah destinasi-destinasi yang mempunyai penerbangan langsung internasional," kata pemilik operator tur PT Flobamor Tours itu.

Dicontohkan seperti harga tiket pesawat hanya untuk keberangkatan domestik dari Jakarta-Labuan Bajo yang berkisar dari Rp3,5 juta hingga Rp4 juta lebih dari kondisi normal berkisar di bawah Rp3 juta.

Ia mengatakan, umumnya pelaku usaha wisata di daerah itu maupun daerah lainnya juga mengeluhkan kondisi ini karena dampak menurunnya aktivitas perjalanan wisatawan sangat terasa.

"Memang Pemerintah sudah meminta Pertamina utk menurunkan harga avtur tapi dampak perubahan untuk pariwisata belum terlihat," katanya.

Baca juga: Pelaku wisata NTT keluhkan mahalnya tarif penerbangan
Baca juga: Sumba Timur kembangkan wisata Bunga Sakura
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar