Logo Header Antaranews Kupang

Balai Bahasa NTT memperkuat pendataan dan pelestarian bahasa daerah

Jumat, 5 Desember 2025 06:11 WIB
Image Print
Sesi pemaparan materi metodologi pendokumentasian bahasa-bahasa daerah di NTT dalam kegiatan Diseminasi Peta Kebinekaan yang digelar Balai Bahasa NTT, di Kupang, Kamis, (4/12/2025).  ANTARA/Yoseph Boli Bataona

Kupang, NTT (ANTARA) - Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (BBP NTT) memperkuat pendataan dan pelestarian bahasa daerah melalui kegiatan Diseminasi Peta Kebinekaan sebagai bagian dari program Pemutakhiran Peta Bahasa Tahun 2025-2029.

“Kegiatan diseminasi peta kebahasaan ini bertujuan mendapatkan masukan dan luaran yang tepat dalam upaya pendokumentasian bahasa daerah di NTT, termasuk metodologi pemetaan dan verifikasi data kebahasaan,” kata Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra BBP NTT Pangkul Ferdinandus di Kupang, Kamis.

Ia menjelaskan, diseminasi tersebut sebagai salah satu upaya dalam memperbarui kembali peta bahasa yang ada di Indonesia, khususnya di NTT, melalui verifikasi ulang dan peninjauan titik persebaran bahasa daerah.

“Upaya ini untuk menjamin persebaran data bahasa daerah di Indonesia lebih merata. Jika ada daerah yang belum diambil sampelnya, kami lakukan pengambilan, penelitian, hingga pemutakhiran data pada peta bahasa,” katanya.

Pada 2025, lanjut dia, BBP NTT melakukan verifikasi pada 12 titik pengumpulan data (TP). Hasil verifikasi tersebut tidak ditemukan bahasa baru, tetapi terdapat penambahan dialek dan subdialek.

“Ada wilayah seperti di Kabupaten Rote Ndao dan Timor Tengah Utara, yang secara kebahasaan belum memiliki data. Itu yang kami ambil sehingga menambah variasi bunyi, variasi dialek, variasi subdialek, serta ragam penggunaan bahasa di NTT,” ujarnya.

Pangkul menegaskan BBP NTT berperan dalam mengembangkan dan melestarikan bahasa dan sastra daerah. Melalui kegiatan diseminasi, pihaknya mendorong mahasiswa dan akademisi untuk turut berpartisipasi dalam penelitian serta pelestarian bahasa daerah.

“BBP NTT membutuhkan mitra kolaborasi baik dengan akademisi maupun mahasiswa, agar semakin banyak ruang dan aspek yang bisa digali dari bahasa daerah kita. Semuanya masih perlu dikembangkan dan dipublikasikan ke dunia luar,” tambahnya.

Ia berharap, diseminasi tersebut semakin memperkuat upaya pendataan dan pelestarian bahasa daerah sekaligus membuka ruang diskusi lanjutan di kampus maupun komunitas untuk menjaga keberlanjutan bahasa daerah.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026