
Undana kukuhkan dua Guru Besar perkuat peran akademik di NTT

Kupang (ANTARA) - Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mengukuhkan dua guru besar baru dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Kupang, Rabu (14/1), guna memperkuat peran akademik dalam menjawab tantangan pembangunan daerah, di sektor kebudayaan dan peternakan di Nusa Tenggara Timur.
Rektor Undana Kupang Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale di Kupang, Rabu, mengatakan dua guru besar itu adalah Prof. Dr. Drs. Andreas Ande, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Thomas Mata Hine, M.Si .
“Pengukuhan tersebut menjadi momentum penguatan sumber daya manusia unggul di Undana untuk mendorong riset yang berdampak langsung bagi masyarakat,” katanya.
Prof. Dr. Drs. Andreas Ande, M.Si dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Daerah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Sementara Prof. Dr. Ir. Thomas Mata Hine, M.Si dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Bioteknologi Reproduksi Ternak pada Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP).
Menurut Jefri, jabatan guru besar bukanlah puncak karier akademik, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar.
Ilmu pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi harus hadir sebagai solusi konkret bagi persoalan daerah dan nasional, terutama dalam menjawab tantangan pembangunan di NTT.
Pelaksana Tugas Asisten I Setda Provinsi NTT Drs. Kanisius H. M. Mau, mewakili Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi atas kontribusi Undana dalam melahirkan pakar di bidang yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Menurut Kanisius, kepakaran di bidang sejarah kebudayaan daerah dan bioteknologi reproduksi ternak sangat strategis dalam mendukung sektor prioritas pembangunan NTT, yakni pariwisata berbasis budaya dan penguatan peternakan sebagai lumbung ternak nasional.
Sementara itu guru besar Prof. Andreas Ande dalam orasi ilimiahnya menekankan pentingnya integrasi nilai sejarah dan kearifan lokal ke dalam kurikulum Merdeka Belajar guna mencegah lunturnya identitas budaya generasi muda.
Prof. Thomas Mata Hine memaparkan inovasi pemanfaatan ekstrak daun kelor sebagai aditif dalam preservasi dan kriopreservasi sperma ternak, yang dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi reproduksi sapi dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
