
DJPb: Penyaluran KUR di NTT jangkau 9.455 debitur per Februari 2026

Kupang, NTT (ANTARA) - Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Nusa Tenggara Timur mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di provinsi itu hingga Februari 2026 telah menjangkau sebanyak 9.455 debitur atau 15,07 persen dari plafon penyaluran.
“Sampai dengan 28 Februari 2026, penyaluran KUR mencatat akselerasi yang sangat baik dengan total nilai mencapai Rp483,0 miliar untuk 9.455 debitur di NTT,” kata Kepala Kantor Wilayah DJPb Adi Setiawan di Kupang, Rabu.
Ia menjelaskan pada periode tersebut terjadi kenaikan realisasi sebesar Rp58,23 miliar atau 13,73 persen (yoy), jika dibandingkan tahun 2025.
“Secara wilayah, penyaluran KUR terbesar masih berada di Kota Kupang dengan nilai Rp62,90 miliar untuk 695 debitur,” ujarnya.
BRI menjadi bank penyalur KUR terbesar dengan nilai Rp385,01 miliar untuk 8.735 debitur, serta berfokus pada pelaku usaha ritel dengan jumlah unit dan cabang terbanyak.
“Berdasarkan skema, pelaku usaha paling banyak mengakses KUR mikro dengan nilai penyaluran Rp350,43 miliar untuk 8.937 debitur,” kata Adi.
Sektor perdagangan besar dan eceran menerima penyaluran terbesar, yakni 47,17 persen, dari total realisasi, disusul sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 19,34 persen.
Selain itu, perbankan juga menyalurkan KUR Kredit Pemilikan Properti (KPP) dengan capaian demand rumah sebesar Rp29,94 miliar untuk 161 debitur serta supply rumah sebesar 25,41 miliar untuk 11 debitur.
Lebih lanjut, Adi mengatakan kinerja penyaluran Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) per 28 Februari 2026 mencapai Rp35,20 miliar untuk 6.036 debitur.
PT PNM menjadi penyalur terbesar dengan penyaluran sebesar Rp25,03 miliar untuk 4.314 debitur.
Adapun wilayah penerima pembiayaan terbesar tercatat di Kabupaten Manggarai sebesar Rp36,60 miliar, disusul Sikka Rp28,89 miliar dan terendah di Sumba Tengah Rp2,39 miliar.
Adi menambahkan, pada periode 2026 terjadi kenaikan plafon KUR menjadi Rp3,20 triliun atau naik 10 persen (yoy) untuk target 17.809 debitur, dibandingkan 2025 yang hanya sebesar Rp2,91 triliun.
Total plafon KUR konvensional pada 2026 sebesar Rp3,17 triliun yang dialokasikan kepada BRI Rp2,36 triliun, BNI Rp258,14 miliar, Mandiri Rp174,32 miliar, BTN Rp19,25 miliar, BCA Rp2,95 miliar, Bank Artha Graha Internasional Rp8,5 miliar, Bank Nobu Rp3,32 miliar, dan Bank NTT Rp350 miliar (PMI).
Adapun target debitur KUR Konvensional pada 2026 sebanyak 16.565 debitur yang terbagi di penyalur BRI sebanyak 23.599 debitur, BNI sebanyak 1.039 debitur, Mandiri sebanyak 1.393 debitur.
Selain itu, target BTN sebanyak 175 debitur, BCA sebesar 10 debitur, Bank Artha Graha Ind (BAGI) sebanyak 115 debitur, Bank Nobu sebanyak 22 debitur, dan Bank NTT sebanyak 1.000 debitur (PMI).
Sementara itu, plafon KUR Syariah di Pegadaian pada 2026 sebesar Rp31,71 miliar yang terdiri atas KUR supermikro Rp7,25 miliar dan KUR mikro Rp24,46 miliar.
Target debitur KUR Syariah di Pegadaian tahun 2026 sebanyak 1.262 debitur yang terdiri atas debitur KUR supermikro sebanyak 433 debitur, mikro sebanyak 89 debitur, serta 740 debitur graduasi (naik kelas).
Adi berharap capaian positif penyaluran pembiayaan KUR dan UMi pada awal 2026 dapat menjadi katalis pertumbuhan bagi ekonomi regional di Provinsi NTT.
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
