
Kemenkum NTT kampanyekan perlindungan KI di sektor olahraga

Kupang, NTT (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Hukum Nusa Tenggara Timur (Kemenkum NTT) mengampanyekan perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) di sektor olahraga guna meningkatkan nilai ekonomi, kepastian hukum, serta daya saing pelaku industri kreatif di daerah.
“Industri olahraga dan ekonomi kreatif di Provinsi NTT kini tengah bertransformasi menjadi mesin ekonomi baru yang berbasis pada perlindungan Kekayaan Intelektual,” kata Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kemenkum NTT Bawono Ika Sutomo di Kupang, Senin.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan kampanye dan sosialisasi KI, khususnya di bidang olahraga, dalam dialog di studio Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Kupang.
Dialog ini mengangkat tema “Kekuatan Kekayaan Intelektual dalam Dunia Olahraga” sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perlindungan hukum di sektor olahraga.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi, di antaranya Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi NTT Alfonsius Theodorus, serta Kepala Bidang Pengembangan SDM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Mathias Makarios Beeh.
Pada kesempatan itu, Bawono menjelaskan bahwa KI memiliki fungsi vital dalam mengubah loyalitas emosional penggemar serta kreativitas masyarakat menjadi nilai komersial yang nyata.
“Tanpa adanya perlindungan KI, suatu inovasi tidak dapat dikembangkan dan dikomersialkan secara maksimal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini NTT memiliki 10.803 subsektor ekonomi kreatif yang didominasi oleh sektor kriya dan kuliner, namun sekitar 88,95 persen pelakunya belum memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
“Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan pemanfaatan perlindungan hukum di kalangan pelaku ekonomi kreatif. Karena itu, pemerintah terus mendorong dan memfasilitasi pendaftaran HKI guna memberikan payung hukum serta melindungi produk lokal dari potensi pelanggaran,” katanya.
Sementara itu, Alfonsius Theodorus menjelaskan pengembangan sektor olahraga di NTT menunjukkan tren positif berbasis data, sejalan dengan target besar menjadi tuan rumah PON XXII tahun 2028.
Sepanjang tahun 2025, para atlet binaan berhasil meraih total 115 medali dengan rasio medali emas lebih dari 50 persen. Prestasi ini juga diperkuat dengan capaian internasional, di antaranya medali emas oleh Alvin Nomleni pada Kejuaraan Dunia Lari Para Athletics di Tunisia serta Muh. Zaki Z. Prasong pada ajang SEA Games di Thailand.
“Keberhasilan tersebut didukung oleh sistem pembinaan modern yang mengintegrasikan sport science, rekam jejak terukur, serta sinergi kepelatihan tersertifikasi guna membentuk Super Team yang tangguh,” katanya.
Pada kesempatan sama, Mathias Makarios Beeh menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan peta jalan strategis 2026–2028 yang mengintegrasikan peningkatan prestasi olahraga dengan pemberdayaan ekonomi kreatif.
Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program seperti Antikfest dan gerakan “NTT Bertenun” yang mengangkat potensi lokal berbasis budaya, dengan fokus pada penguatan sumber daya manusia, digitalisasi basis data, serta regenerasi penenun muda dan atlet usia dini melalui sistem pusat pembinaan modern.
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
