Logo Header Antaranews Kupang

Merayakan buruh, melupakan kata kuli

Jumat, 1 Mei 2026 11:05 WIB
Image Print
Foto udara sejumlah bus yang membawa buruh berangkat untuk mengikuti Hari Buruh Internasional 2026 di kawasan Industri MM2100, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (1/5/2026). Sebanyak 2.800 buruh berangkat dari kawasan tersebut untuk mengikuti aksi Hari Buruh Internasional di Jakarta. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/nz

Jakarta (ANTARA) - Kita telah menemukan kata “buruh” yang lebih baik daripada “kuli”. Buruh terdengar lebih adil, lebih manusiawi, lebih layak dicetak di spanduk, dan lebih enak diucapkan dalam pidato.

Hanya saja, seperti banyak hal lain dalam kehidupan kita, kata itu tidak selalu cukup untuk memastikan bahwa substansi di baliknya benar-benar berubah.

Ketidakcukupan kata itu paling terasa setiap 1 Mei datang. Pada hari istimewa ini, kita seolah menghadiri sebuah perayaan yang khidmat, sekaligus agak canggung.

Jalanan di kawasan industri, seperti Bekasi, Karawang, dan Cimahi, dipenuhi rombongan buruh yang berangkat bersama-sama, membawa spanduk dan tuntutan yang sebagian besar telah kita hafal.

Untuk beberapa jam, mereka menjadi pusat perhatian; sebuah hak istimewa yang jarang terjadi pada hari-hari biasa, ketika mereka justru menjadi bagian dari latar belakang yang nyaris tak terlihat.

Jalanan boleh riuh, tuntutan disuarakan, dan keyakinan diproduksi dalam bentuk yang cukup rapi untuk dipercaya bersama. Namun, di balik riuh rendah demonstrasi itu, ada lapisan yang jarang disentuh, yakni ingatan tentang tubuh-tubuh yang sejak lama bekerja dalam diam. Di sanalah sebuah kata lama berpendar redup: kuli.

Kata ini mungkin sudah jarang kita ucapkan, tapi jejak mentalitasnya belum sepenuhnya kita tinggalkan. "Kuli" dan "buruh" mengingatkan kita bahwa pergantian label belum tentu menghapus warisan masa lalu.

Tentang kuli, dalam Max Havelaar, Multatuli menulis dengan nada yang nyaris putus asa: “Ik wil gehoord worden!” (Aku ingin didengar!). Satu seruan yang sederhana, tetapi perlu waktu panjang untuk benar-benar dikabulkan.

Seruan itu, hingga kini, terdengar seperti datang dari ruang yang sama. Dari masa ketika kerja bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang ditentukan dari luar diri.

Pada abad ke-19, melalui sistem tanam paksa, kerja diatur dengan ketelitian yang nyaris tanpa ruang tawar-menawar. Tanah ditanami bukan untuk kebutuhan sendiri, melainkan untuk pasar yang jauh. Hasilnya mengalir ke tempat-tempat yang tidak pernah diketahui mereka yang bekerja.

Jika sistem itu ada yang menyebut efisien, mungkin karena berhasil memastikan bahwa orang yang bekerja tidak perlu terlalu repot memikirkan ke mana hasil kerjanya pergi.

Di Sumatra Timur, efisiensi itu menjadi lebih konkret. Di perkebunan Deli, para kuli kontrak hidup dalam sistem yang tertata rapi: kontrak ditandatangani, aturan ditegakkan, dan pelanggaran ditangani dengan mekanisme yang pada masa itu dianggap wajar.

Johannes van den Brand --seorang advokat Belanda yang dikenal berani membela kuli pribumi di Sumatera Timur pada awal abad ke-20-- mencatat dengan kalimat yang dingin. “Kuli adalah angka, bukan manusia,” tulisnya dalam brosur terkenal De Millioenen uit Deli (Jutaan dari Deli). Sebuah kalimat yang, dengan sedikit penyesuaian istilah, mungkin masih bisa ditemukan dalam bentuk lain hari ini.

Kata “kuli” lahir dari ekosistem "kerja paksa". Kuli bukan sekadar istilah, melainkan cara melihat manusia sebagai tenaga, sesuatu yang bisa dihitung, diatur, dan bahkan diganti.

Maka, tak heran jika kita kemudian meninggalkan kata itu dan menggantinya dengan “buruh”, sebuah kata yang memberi ruang bagi martabat, bagi suara, bagi kemungkinan untuk menolak, atau setidaknya, untuk terdengar seperti memiliki kemungkinan itu.

Namun, bahasa juga bisa menjadi semacam penghiburan. Pergantian kata memberi kesan bahwa perubahan telah terjadi, bahkan ketika sebagian kenyataan masih berjalan di tempat.

Kita tidak lagi menyebut manusia sebagai angka, tetapi kita cukup terbiasa melihat mereka sebagai statistik. Kita tidak lagi berbicara tentang hukuman kontrak kolonial, tetapi kita memahami bahwa ada batas-batas yang tidak mudah dilampaui dalam dunia kerja modern.

Di kawasan industri, buruh pabrik menjalani ritme yang ketat: shift panjang, target produksi, dan kontrak yang sering kali diperbarui tanpa kepastian. Mereka bekerja dalam sistem yang rapi, segala sesuatu diukur, seperti waktu, output, bahkan gerak-gerik.

Di luar pabrik, bentuk kerja lain tumbuh dengan cara yang lebih cair. Pengemudi ojek daring menunggu pesanan di bawah flyover atau di depan pusat perbelanjaan. Mereka disebut “mitra”, satu istilah yang terdengar setara, bahkan hampir bersahabat.

Namun, hubungan itu tetap memiliki arah yang cukup jelas. Aplikasi menentukan ritme, algoritma menentukan peluang, dan insentif menentukan seberapa lama seseorang akan tetap berada di jalan. Tidak ada mandor yang terlihat, tidak ada peluit yang berbunyi. Yang ada hanyalah notifikasi,.

Seorang pengemudi ojek daring, bisa bekerja hampir sepanjang hari, tanpa benar-benar merasa sedang “bekerja” dalam pengertian lama. Ia menunggu notifikasi, menerima pesanan, bergerak mengikuti peta digital yang terus berubah. Ia tidak terikat kontrak seperti kuli Deli, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas. Ia berada di dalam satu sistem yang berhasil mengatur kerja, tanpa harus terlihat mengatur.

Di ruang lain, pekerja digital menghadapi bentuk yang berbeda. Mereka bekerja dari mana saja, dengan waktu yang semakin sulit dibatasi. Ada kebebasan dalam pengaturan itu, tetapi juga keterikatan yang tidak selalu mudah dihindari.

Pekerjaan tidak lagi dimulai dan diakhiri dengan jelas; pekerjaan hadir sebagai arus yang terus mengalir, kadang tanpa jeda yang cukup.

Bab baru

Melihat fenomena itu, mungkin kita perlu menambahkan satu bab baru tentang buruh, hari ini, yang bekerja bukan hanya dengan tubuh, tetapi juga dengan waktu yang terus-menerus terhubung.

Dalam fenomena itu pula, ada pertanyaan yang tak selalu nyaman didengar: Jika kerja bisa dilakukan kapan saja, apakah juga pernah benar-benar selesai? Jika seseorang adalah “mitra”, sejauh mana ia bisa menolak? Jika semua ini adalah pilihan, mengapa sering terasa seperti keharusan?

Dengan demikian, bayangan “kuli” tidak benar-benar hilang, hanya berubah dalam cara hadir. Substansinya tetap, kerja lebih sering sebagai keharusan (atau keterpaksaan).

Padahal, dalam kebudayaan kita, kerja pernah memiliki makna yang luas, yang terkait dengan ritme alam, dengan kebersamaan, dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diukur.

Bayangan “kuli” kembali muncul. Bukan dalam bentuk lama, tetapi sebagai cara pandang yang masih bertahan, bahwa manusia tetap bisa direduksi menjadi fungsi, selama sistem berjalan dengan baik. Tentu saja, kita tidak lagi menyebutnya demikian. Kita menyebutnya efisiensi, produktivitas, atau peluang.

Namun, tak ada salahnya jika kita perlu sedikit lebih jujur, bahwa tidak semua yang terdengar baru itu benar-benar berbeda. Ada pola-pola lama yang muncul kembali dalam bentuk yang lebih canggih, lebih sulit dikenali, tetapi tidak kalah nyata.

Hari Buruh, dalam konteks ini, menjadi semacam cermin yang memantulkan apa yang ingin kita lihat: solidaritas, perjuangan, harapan. Pada saat yang sama, juga menyimpan apa yang tidak selalu kita perhatikan: kelelahan yang berulang, ketidakpastian yang menetap, dan jarak yang terus terjaga antara mereka yang bekerja dan mereka yang menikmati hasilnya.

Kita mengucapkan “buruh” ketimbang "kuli" dengan keyakinan bahwa kata itu membawa perubahan. Bisa jadi memang demikian. Tetapi di suatu tempat yang tidak selalu kita lihat, ada sejarah yang tetap bekerja diam-diam, bahwa yang berubah bukanlah sepenuhnya kenyataan, melainkan cara kita menamainya saja.

Sebab di balik kata “buruh” yang kita ucapkan hari ini, ada sejarah panjang yang sesekali kembali untuk mengingatkan jika kita belum sepenuhnya selesai dengan kata "kuli".

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Merayakan buruh, melupakan kuli



Oleh
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026