Seluruh kecamatan di Timor Tengah Selatan dilanda kekeringan

id kekeringan ntt

Warga Timor Tengah Selatan (TTS) sedang mengantre untuk mendapat air bersih via mobil tanki air bantuan pemerintahan setempat (ANTARA/HO-Humas BPBD TTS)

BPBD Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (9/9) melaporkan bahwa seluruh wilayah kecamatan di kabupaten penghasil kayu cendana terbesar di Provinsi NTT itu sedang dilanda kekeringan, akibat kemarau panjang tahun ini.
Kupang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (9/9) melaporkan bahwa seluruh wilayah kecamatan di kabupaten penghasil kayu cendana terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sedang dilanda kekeringan, akibat kemarau panjang tahun ini.

Ada sekitar 22 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) saat ini dilanda kekeringan, termasuk di antaranya 58 desa yang menyebar di kecamatan-kecamatan tersebut. Namun, ditegaskan bahwa tidak semua desa di 22 kecamatan yang ada mengalami kesulitan air bersih. Sedang, jumlah kepala keluarga (KK), yang terkena dampak kekeringan sebanyak 11,458 KK atau sekitar 40.000 lebih jiwa.

Bupati Timor Tengah Selatan Epy Tahun yang dihubungi terpisah mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah penanganan dengan mensuplai air bersih ke desa-desa yang terkena dampak kekeringan. Hanya saja, upaya ini belum bisa dilakukan secara maksimal karena keterbatasan mobil tangki yang digunakan untuk mensuplai air.

Saat ini, kata dia, pelayanan air bersih baru menyentuh belasan desa, dari puluhan desa yang mengalami krisis air bersih di wilayah dengan penduduk terbesar di NTT itu.

"Pelayanan air bersih bagi warga di desa-desa ini dilakukan mulai pagi hingga malam hari, dengan menyasar terlebih dahulu desa-desa yang paling parah," katanya dan mengharapkan agar sampai akhir September 2019, semua desa sudah bisa terlayani air bersih melalui mobil tanki air.

Baca juga: Distribusi air bersih di TTS terhambat keterbatasan mobil tanki
Baca juga: Akibat kemarau, ribuan haktare sawah di Manggarai Barat gagal panen
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar