Selama Ramadhan, Permintaan pasokan sapi dari luar NTT meningkat

id NTT,Dinas Peternakan NTT,antarpulau sapi,permintaan sapi NTT,kapal ternak

Selama Ramadhan, Permintaan pasokan sapi dari luar NTT meningkat

Ternak sapi yang dikirim melalui kapal ternak ke luar Provinsi Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/Kornelis Kaha)

Aktivitas pengiriman ternak sapi ke luar provinsi juga dilakukan dengan tetap menerapkan protokol pencegahan virus corona jenis baru (COVID-19)

Kupang (ANTARA) - Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dani Suhadi, mengemukakan permintaan pasokan sapi dari luar provinsi setempat mulai meningkat selama Ramadhan 2020.

“Permintaan sapi dari luar agak tinggi tetapi secara normal tetap kita layani. Per hari ini permintaan sudah 10.000-an ekor,” katanya di Kupang, Rabu (29/4).

Ia mengatakan, tingginya permintaan pasokan sapi tersebut terutama dari wilayah Jakarta dan Kalimantan yang dimanfaatkan untuk kebutuhan di daerah masing-masing selama Ramadhan 2020.

Dani Suhadi menjelaskan, saat ini sapi-sapi yang tersedia di tempat Karantina sebelum diantarpulaukan ke daerah tujuan sudah banyak, bahkan melebihi kapasitas muatan kapal ternak.

“Kapal ternak memang tidak bisa percepat waktu tempuhnya. Kalau ke Jakarta sekitar satu minggu, sedang ke Kalimantan empat hari,” katanya.

“Jadi walaupun sudah didukung empat armada tetap saja masih harus antre,” katanya lagi.

Dani Suhadi menjelaskan, aktivitas pengiriman ternak sapi ke luar provinsi juga dilakukan dengan tetap menerapkan protokol pencegahan virus corona jenis baru (COVID-19).

“Ada protapnya, petugas yang dari NTT ke daerah tujuan tidak boleh turun dari kapal namun di sana nanti ada petugas yang menjemput di atas kapal,” katanya.

Dani Suhadi menjelaskan, untuk 2020 ini, kuota pengiriman ternak sapi ke luar NTT ditetapkanya sebanyak 54.000 ekor.

Menurut dia, kuota ini dikurangi dalam rangka penanganan kebutuhan lokal maupun hari raya di daerah setempat yang permintaannya cukup tinggi.

Selain itu, permintaan dari perusahaan daerah yang melakukan pengolahan daging beku juga mencapai hingga ribuan ekor.

Baca juga: Kematian babi akibat virus ASF capai 6.998 ekor
Baca juga: NTT alihkan anggaran pembibitan babi Rp2 miliar untuk tangani COVID-19