NTT alihkan anggaran pembibitan babi Rp2 miliar untuk tangani COVID-19

id NTT,Dinas Peternakan NTT,Realokasi anggaran,Pembibitan babi,virus ASF,ternak babi ntt

NTT alihkan anggaran pembibitan babi Rp2 miliar untuk tangani COVID-19

Peternakan babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/HO-Dinas Peternakan Provinsi NTT)

Pengalihan anggaran untuk dampak COVID-19 tersebut juga pemanfaatannya terintegrasi dengan warga yang ternaknya mengalami serangan virus ASF.

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalihkan anggaran pembibitan ternak babi senilai Rp2 miliar untuk penanganan dampak COVID-19 di provinsi berbasiskan kepulauan ini.

"Pengalihan anggaran ini sesuai perintah Gubernur NTT (Viktor Bungtilu Laiskodat, Red) agar dilakukan pemotongan belanja yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat yang terdampak COVID-19," kata Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi, di Kupang, Rabu (29/4).

Ia menjelaskan, anggaran tersebut sebelumnya dialokasikan untuk belanja pembibitan babi yang akan diternakkan di unit pelaksana teknis (UPT) milik pemerintah provinsi setempat.

"Kegiatan pembibitan ini dalam rangka untuk penerimaan pemerintah provinsi, namun dialihkan karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak terkait penanganan COVID-19," katanya lagi.

Menyinggung terkait kondisi peternakan babi, Dani Suhadi mengatakan saat ini di NTT terutama di Pulau Timor juga masih dihadapkan pada masalah terkait serangan Virus African Swine Fever (ASF).

Pihaknya mencatat, hingga saat ini kasus kematian babi akibat serangan Virus ASF itu mencapai sebanyak 6.998 ekor. Kasus tersebut terjadi pada seluruh wilayah di Pulau Timor, dan yang lebih dominan di Kabupaten Kupang.

Menurut dia, serangan ASF ini tidak hanya terjadi pada ternak babi milik masyarakat, namun juga di pusat pembibitan milik pemerintah provinsi.

"Karena kondisi yang lagi seperti ini, maka pembibitan babi kita kurangi dan anggarannya dialihkan untuk penanganan dampak COVID-19," katanya pula.

Ia menambahkan, pengalihan anggaran untuk dampak COVID-19 tersebut juga pemanfaatannya terintegrasi dengan warga yang ternaknya mengalami serangan virus ASF.

Baca juga: Kematian babi akibat virus ASF capai 6.998 ekor
Baca juga: Pengamat: Perlu langkah serius atasi flu babi Afrika di NTT

Pewarta :
Editor: Bernadus Tokan
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar